Space Iklan

Selasa, 26 Juni 2018

Ke Jogja (2) : Yang Juga "WOW" di Gunung Kidul




Sehari sebelum lebaran, di pagi yang belum genap pukul enam. Tupai-tupai kelapa turun dan berlarian di loteng yang berlumut ketika kami hendak pergi meninggalkan rumah untuk melanjutkan petualangan berikutnya, menuju suatu tempat yang kawan karib saya satu ini sudah janjikan.
            “Air terjun Sri Gehtuk.” Katanya.
            “Pagi begini apa ada yang sudah jaga tiket masuk?”
            “Ada ato ga ada, kita harus sudah sampai sana saat ini juga. Biar tar ga kesorean ketika kita lanjut hunting foto ke pantai-pantai selatan”
“Oke kalo gitu, kita berangkat sekarang, Ndut.”


Kami pun akhirnya berangkat saat itu juga. Melewati hutan jati yang jalannya berdebu seperti kabut ketika ada roda yang melewatinya. Tapi yang tidak pernah saya sangka, Herman ternyata ga tau jalan. Klasik sekali.
“Gue beneran lupa.”
“Santai saja sih, selama punya mulut yang rajin bertanya, gue jamin kita ga bakalan bisa nyasar.”


Sampai tujuan, dugaan kami pun benar. Tak satu orang pun yang ada di sana. Ini berita bagus karena kami jadi bisa menghemat ongkos perjalanan, sebab tidak harus membayar tiket masuk walau katanya seharga goceng itu, tentu saja. Memang sepertinya untuk kami semesta selalu merestui. (^3^) Karena keberuntungan yang sering ini, seorang kawan bahkan pernah menjuluki saya sebagai “Orang paling dicintai semesta nomor satu di dunia”. Hahaha, ada-ada saja.

Saya baru tahu kalo di pintu masuk wisata Air Terjun Sri Gethuk itu ternyata ada gua yang dinamai Gua Rancang. Dinamai demikian sebab konon katanya pernah dipakai sebagai tempat untuk merancang strategi orang-orang dari kerajaan Mataram ketika berjuang mengusir penjajah dari Nusantara.
Kami berdua memasuki gua yang di pintu masuknya ditumbuhi pohon yang usianya lebih dari 200 tahun itu. Ada lapangan yang boleh disebut bisa dijadikan lapangan badminton di perut gua sebab kondisi tanahnya yang datar merata dan kering. Dengan dihiasi stalaktit-stalaktit di atapnya, maka ini adalah lapangan badminton paling eksotis di dunia :D versi saya.

Puas blusukan di gua, kami langsung menuju Air Terjun Sri Gethuk. Dan komentar saya ketika melihat pemandangan di sana adalah cuma “WOW”. Itu saja. Tak cukup seribu kata untuk menceritakan keindahan tempat itu, oleh sebab itulah saya akan menceritakannya lewat foto-foto jepretan saya saja; cekidot! (^3^)/ (off the record : sebenarnya lagi males nulis)















Ke Jogja (Bag.1) : Pertemuan Dua Orang Pejalan





Tiba-tiba saja dia menelpon ketika bulan puasa hampir habis, setelah berbulan-bulan tidak kirim kabar. “Gue mau pulang ke Jawa lebaran ini. Posisi di mana sekarang?” katanya lewat telepon malam itu. Herman. Sialan satu itu masih hidup, ternyata. Kawan karib waktu masih jaman kuliah dulu
“Magelang.”
“Mau bekpekeran ke tempat gue ga, Nyuk (baca:kunyuk)?
“Oke. Kangen juga keliling Wonosari. Kapan emang lo turun dari Bekasi, Ndut (baca:gendut)?”
“Lebaran H-3, keknya.”
“Bagus. Tunggu kabar dari gue. Nungggu THR turun dulu. He he..”          
“Oke, ntar kabarin gue ya, kalo jadi.”
“Iye, ga janji ya, tapi.”

Dua hari kemudian akhirnya muncul juga hari yang ditunggu itu. Dia menghubungi saya lagi, dan saya langung deal ketemuan dengannya begitu dia kembali menawarkan paket perjalanan super murah.
“Keliling Wonosari pake motor gue, tidur di tempat granny gue, biaya suka rela, gratis juga ga papa, yang penting bensin lo yang ngisi.”
“Et, yang begini mananya yang disebut gratis, Ndut. But okelah, mumpung gue lagi tajir.”



Kami akhirnya ketemuan di Malioboro, hari sudah sore banget ketika itu, meski saya berangkatnya siang. Efek dari budaya mudik, jalanan jadi macet. Saya ke Jogja naik bus ketika itu, jadi sampai di sana agak lamaan karena faktor tadi.
Seperti biasa, bukan saya namanya kalo tidak dadakan membikin plan perjalanan. Sebab bagi saya, petualangan itu adalah bukan tujuan, tapi perjalanan. Cerita-cerita pencapaiannyalah yang saya lebih cintai dari perjalanan saya selama ini, ketimbang ketika saya sudah sampai tujuan.
Well, Ndut. First destination. Sebab hari udah sore banget, kita langsung ke Bukit Bintang saja nikmatin senja. Liat kota Jogja dari atas ketika lampu-lampu rumah yang ada di sana satu-per satu menyala keknya asyik nih, apalagi sembari ngopi dan jajan jagung bakar.”
“Ide brilliant, nyuk. Okelah kita langsung ke sana.”
“Tau jalannya? Kita barangkali bisa ngebut supaya bisa sampe sana senja tet! (‘tet’ adalah bunyi suara bell, ia masuk dalam kamus kami sebagai sinonim dari ‘pas’ atau ‘tepat’. Dan kami lebih suka memakai kata ini ketimbang dua yang baku tadi.)
“Wah, lupa….”
As always. Bukan kamu namanya kalo ga gitu. Baiklah kita jalan saja dulu. Ini akan menjadi perjalanan yang membuat mulut kita akan lebih sering bertanya. (-3-)”
“Woyo! (^3^)”




Tapi, eh, ini tidak bisa disebut dugaan yang terjadi, tapi prediksi tepat yang memang tiba waktunya terjadi : kami kesasar!
Serendipity, begitulah banyak orang sering, menyebutnya. Karena kesasar itu kami bisa sampai di Tamansari akhirnya—Reruntuhan kuno yang ada di Jogja dan tersohor namanya itu. Melihat reruntuhan yang menjulang tersebut, plan kami pun seketika langsung kami ubah.
“Masuk, Ndut. Belum tentu besok-besok kita bisa nyasar sampe sini lagi. Gue juga dah lama ngelirik tempat ini.”
“Okelah, cari tempat parkir kita.”



  Kemudian kami pun masuk area wisata yang ternyata ga dipungut biaya. Hunting foto di reruntuhan bekas istana bagi saya rasa senang yang didapat setara dengan ketika karaoke di sebuah ruangan dan ditemani oleh tujuh wanita yang intensitas kecantikannya setara dengan Kimberly Ryder dan Marchela Zalianti. Nah, inilah anehnya saya; bisa mendapatkan kebahagiaan besar dari hal yang disebut orang sederhana.
Usai di sana, kami lantas menuju masjid bawah tanah. Sayang ketika itu tepat waktunya tutup. Semua pengunjung pun juga sudah pada digiring keluar oleh sang juru kunci. Tapi, kawan. Bukan perjalanan saya namanya jika tidak punya kisah ajaib di dalamnya. Seorang perempuan setengah baya yang manis mendadak lari ke arah kami ketika kami sempat putus asa. Ia memperkenalkan diri sebagai Mbak Ning. Tepat ketika juru kunci memutar gembok gerbang masjid bawah tanah itu satu kali.
“Mau masuk, Mas?”
“Iya, Mbak. Mau ngambil gambar saja sih.”
“Masnya dari mana?”
“Semarang, Mbakyu.”
“Bisa diijinkan masuk, Pak?” kata Mbak Ning kepada juru kunci.
“Emh, boleh, boleh. Tapi jangan lebih dari sepuluh menit, ya?” jawab bapak itu.
“IYA, JANJI. (^o^)” Kata kami serentak dengan memasang wajah innocence.







Mbak Ning kemudian jadi guide kami. Mengantar kami kelilingWater Castle dan galeri-galeri seni yang ada di sana hingga menjelang senja.
Kami lanjutkan perjalanan hingga Bukit Bintang ketika hari sudah petang. Ngopi-ngopi di sana, makan jagung bakar, dan udud plempas-plempus, tentu saja.
Menjelang pukul Sembilan, kami pulang ke rumah Mbahnya Herman. Di sebuah desa yang gelap, tapi sungguh tenang, di pelosok Gunung Kidul. Di tempat seperti itu, saya jelas tidak bisa tidur lebih cepat. Kami berdua akhirnya ngobrol di atas tandon air tentang masa depan. Langit sungguh gulita, desa hanya punya sedikit cahaya, itulah kenapa di malam bulan Agustus itu, bintang jadi tampak demikian terang. Beberapa ekor kunang-kunang sesekali melintas di antara kami. Cara ngobrol kami tetap seakrab dulu. Itulah yang pada akhirnya membuat kami mengerti, bahwa orang lain bisa gampang berubah tentang pikiran mereka kepada kita, tapi kawan karib akan memberi nilai yang selalu sama.





“Ndut.”
“Apa?”
“Lihat bintang di langit itu.”
“Banyak banget, ya.”
“Bukan itu.”
“Apa memangnya?”
“Mereka terlihat tampak lebih terang jika dilihat dari tempat yang sangat gelap seperti ini.”

-Bersambung-

Ke Bali (Bag.3) : Dua Sayap Kecil yang Tiba-Tiba Tumbuh




..And the time waits for no one

Tidak benar bahwa saya tidak bisa tidur di tempat yang lebih layak selain di emperan toko walau tidak bisa menyewa hotel ketika itu. Sebenarnya banyak sekali teman dari dunia maya yang menawari saya untuk  tidur di rumahnya. Seorang rekan kerja dari Jawa juga bahkan merekomendasikan seorang temannya di Bali untuk mau menampung saya. Tapi semua tawaran itu saya tolak dengan halus. Saya memang sengaja mengajari diri saya sendiri untuk bisa menghadapi segala sesuatu ketika saya tidak punya apa-apa. Dan jujur, inilah sebenarnya maksud dari saya melakukan perjalanan ini.
Sisa duit sudah tidak bisa memungkinkan kami berdua bisa sampai ke Semarang, Jakarta apalagi. Jadi, terpaksa saya hubungi Si Qodir.
Qodir itu macem kelinci di cerita Alice in Wonderland bagi saya. Selain semangat saya, dialah sebenarnya yang membuka gerbang perjalanan saya ke dunia ajaib selanjutnya.
“Transfer dua ratus ribu saja dong. Pulang langsung kuganti.” Kata saya menghubungi teman saya yang kerja sebagai staff fraksi di gedung DPRD Provinsi Jateng ini. Saya ingin membuktikan juga kata pepatah, bahwa untuk mengetahui seberapa baik teman kamu, cobalah meminjam uang padanya. Aish! Dia ternyata masuk kualifikasi. Betapa baik teman yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri ini. Ga nyampe dua puluh menit, angka di rekening saya langsung nambah. 


        
 Artinya saya bisa lega dan tidak khawatir lagi bisa sampai Jakarta atau tidak. Karena duit segitu ditambah sisa yang di kantong, bagi saya sudah dapat meyakinkan saya untuk bisa menghadiri launching buku antologi ke-9 saya ini. Saya pun dengan segera menuju Denpasar untuk mencari bus jurusan Gilimanuk. Sampai Gilimanuk hari sudah sore. Kami langsung beli tiket kapal dan nyebrang ke Pelabuhan Ketapang. Beruntung saya bisa melihat anak-anak koin yang berebutan terjun menangkap koin yang dilempar para penumpang kapal saat kapal sudah sampai di Ketapang. Jiwa patriotik saya membuncah begitu melihat mereka. Negri kita, betapa kaya akan sesuatu yang bisa membuat banyak orang bertepuk tangan.


Saya menyebut ini sebagai sebuah kesialan yang di luar perhitungan. Tiket kereta kelas ekonomi yang bisa mengantar saya ke Jakarta hari itu ternyata sudah habis terjual. Saya lupa karena sekarang semua stasiun kereta memberlakukan sistem pemesanan sebelum hari H keberangkatan tanpa mau memberi dispensasi kepada mereka yang kehabisan tiket untuk duduk di pinggir pintu atau manapun. Terpaksalah saya bermalam di stasiun Banyuwangi untuk menunggu kereta pagi. Si Doel yang barangkali sudah kelelahan langsung ndolosor seperti biasanya setelah nemu bangku panjang yang kosong. Dan saya, sudah bisa ditebak, harus tetap terjaga demi keamanan. Saya benar-benar tidak tidur semalaman itu, selain karena yang tadi, alasan lainnya adalah karena banyak waria yang sliwar-sliwer di stasiun itu kalo malam. Alasan yang terakhir ini jelas membikin saya paranoid. Untung ada teman ngobrol, Ricky dan tiga kawannya. Mahasiswa tajir dari Jakarta yang katanya sudah habis duit sekian juta untuk foya-foya seminggu di Bali. Beruntung sekali dia jadi anak orang kaya. Tapi, ini hal klasik yang sudah tidak lagi bisa membuat saya iri. Tuhan seperti sengaja mempertemukan orang beda kasta dengan saya ini kepada saya. Ha ha ha, apa maksudnya. 


Syukurlah Ricky ini bocah baik dan enak diajak ngobrol, ia memberi saya sebotol arak Bali dan ngajak ngobrol tentang musik rock. Well, tidak penting arak Bali (tapi udah incip-incip ding :p ), yang terpenting adalah ngobrol kami nyambung. Kami sampai pagi ngobrolnya, bahkan sampai akan naik kereta. Setelahnya, kami duduk di gerbong yang berbeda. Di sana akhirnya saya bisa tidur walau barang sejam dua jam. Saya dan Si Doel pisah di Stasiun Jebres, Solo. Saya turun di sana karena harus ganti kereta untuk bisa sampai Jakarta. Dan lagi-lagi, saya kehabisan tiket kereta kelas ekonomi -_-‘ what the hell is going on….
“Masih ada nih, mas. Kereta Majapahit. Terlambat sekitar dua jam dari jadwal seharusnya di sini nanti karena ada masalah…” kata petugas loket tiba-tiba saat saya mau beranjak ke terminal nyari bus.
Okelah, itu satu-satunya cara. Bukan saya namanya kalo tidak nekat. Saya beli tiket kereta kelas ekonomi AC itu akhirnya, walau duit di dompet masih cuma sisa ceban. Ceban kawan! Ceban! Bisa tidak, saya sampai Cassablanca dengan duit ceban saat saya sudah sampai stasiun pasar senen? Ternyata bisa.


Siapa yang berjalan, ia akan sampai. Begitulah kata pepatah. Meski duit tinggal ceban dan saya harus sampai di Cassablanca yang saya sendiri tidak tahu di mana itu, saya tetap yakin akan sampai di sana. Untung saja lagi-lagi saya ketemu orang baik, sopir angkot yang mengantar saya privat ke Cassablanca. Istilah Jakarta adalah kota para ular dan serigala ternyata cuma omong kosong. Saya kira sopir angkot tersebut bakalan ‘nembak’ saya karena saya bilang bahwa tujuan saya adalah hotel berbintang.
            “Berapa, bang?” ketika saya tanya ongkos saat sudah sampai di tujuan.
            “Goceng saja, mas.”
            Aiiiiih?!! Cuma Goceng??? Teriak saya dalam hati. Betapa itu adalah sebuah keajaiban. Di Cassablanca itu, saya dengan penampilan gembel langsung masuk ke Hotel Harris, hotel seperti yang disebutkan di email undangan. Saya melakukan registrasi, dan langsung dapat satu kamar di lantai 7. Saya langsung mandi di Bath Tube dengan air hangat. Siapa juga yang menyangka setelah tiga hari di Bali saya cuman mandi di kamar mandi terminal hari itu saya bisa mandi di tempat seperti itu.
            Setelah kelihatan ganteng. Bahkan ganteng banget, saya kemudian nemuin panitia. Eh, dapet ganti ongkos transport sejuta sekian langsung 8| what a day! Itu juga belum termasuk hadiah, lho.

            Nyoba iseng nanya-nanya pemenang lainnya tentang asal dan cara mereka bisa sampai di sana, saya mendapat jawaban yang fantastis.
            “Naik pesawat.”
            “Naik Pesawat.”
            “Naik apa? Naik Pesawat.”
            Hahaha, tentu saya bisa seperti mereka jika sudah prepare jauh-jauh hari. Rasanya malu kalo cerita ke mereka bahwa saya naik kereta dengan duit ngutang karena habis bekpekeran di Bali. Jadi saya bilang saja, “Saya cuman naik kereta kelas eksekutif. Saya memang selama ini lebih suka naik kereta api ketimbang alat transportasi lainnya. (Sambil merapikan belahan rambut)”




    What a show! Ini sungguh bagian kehidupan yang memukau dan perlu dicatat seperti ini. Saya akhirnya bisa kumpul dengan para sastrawan besar yang sebelumnya nama mereka cuma bisa saya pelototin di buku-buku yang dijajar di gramedia dalam satu ruangan. Apalagi ditambah penampilan pemenang pertama ketika membaca puisinya, ini sungguh sesuatu yang membikin tubuh saya merinding!


Karena kelelahan, saya bermalam dulu di hotel. Nonton acara Discovery Channel sambil ngobrol dengan Mas Arif, teman sekamar saya, seorang pegawai bank yang juga menjadi pemenang.





Esoknya, kami berpisah. Dia naik kereta, dan saya keliling-keliling Jakarta dulu dengan Bus Way. Selanjutnya saya mampir di Bekasi, nengok kawan-kawan satu genk di sana waktu jaman kuliah dulu. Nongkrong dan ngobrol di kafe seperti biasanya, sebelum kemudian pulang ke Semarang. Sebab entah kenapa, saya tiba-tiba merasakan kangen berat kepada kawan-kawan saya di kantor Satuan Relawan Indonesia Raya. Ternyata, satu di antara mereka sedang terlibat masalah yang besar. Dan salah satu solusi untuk mengatasi masalah itu, adalah dengan sesuatu yang ketika itu saya bawa. Maka pulanglah saya malam itu juga dengan Bus malam jurusan Semarang karena tiket kereta seluruhnya sudah habis terjual. Lagi-lagi. Tiket kereta. Hahaha!


Apa kabar malam di kota kita. Masih kah sepanjang jalan pahlawan dipenuhi canda yang tak pernah genap itu? Lampu-lampu jalan yang benderang, betapa aku rindu melihat mereka menerangi garis wajah kalian ketika ketawa.

            Di dalam bus yang melaju kencang itu saya mendadak berpuisi. Dan waktu kembali berjalan pelan seperti biasanya. Bulan kelihatan lebih bulat dan terang malam itu. Terang sekali. Saya merasakan ada dua sayap kecil yang tiba-tiba tumbuh di belakang punggung saya. Dan dua-duanya lantas berbisik pelan, “Mau terbang kemana setelah ini?”
Aku cuma tersenyum, sebelum kemudian terlelap di bangku bus malam yang senyap itu.