Space Iklan

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2012

Cerpen : Kisah Rokayah

 
Ini cerita tentang Rokayah. Dia adalah perempuan setengah baya yang memiliki dua orang anak yang masih kecil-kecil dari suaminya Ma’un yang kini sudah meninggal dunia karena penyakit typhus. Rokayah tinggal di bantaran kali. Sebab tidak punya rumah tetap dan juga kartu keluarga, maka oleh pemerintah, ia diakui bukan sebagai warga Negara Indonesia. Oleh sebab itulah, satpol PP tidak pernah segan-segan menendang wajahnya ketika mereka membongkar rumah liar Rokayah yang seringkali berpindah-pindah dengan paksa.

Rokayah bukan orang yang mudah menyerah. Pikirnya ia punya hak sebagai anak bangsa yang lahir di negri yang baru 66 tahun merdeka ini untuk tidur di atas tanah dan di bawah langitnya. Ia mendirikan rumah di manapun ia bisa mendirikannya, meski cuma dari kardus-kardus bekas. Tidak masalah, asal dua anaknya tidak dijahili angin ketika mereka terlelap. Tidak masalah, meskipun berapa kali ia mendirikannya, berapa kali itu pula satpol PP juga akan membongkarnya. Tapi ia akan tetap mendirikan rumah kardus lagi. Terus mendirikan. Dan terus.

Masalah Rokayah sebenarnya tidak berkutat hanya pada seputar bongkar pasang rumah saja, untuk bisa makan sehari-hari pun ia juga harus keras berjuang—membanting tulang hingga remuk redam. Kamu pikir, menghidupi dua anak dengan tanpa pekerjaan yang tetap itu mudah?

Setiap hari ia mencari barang-barang bekas di sampah-sampah perumahan. Menggandeng satu anaknya yang baru berusia 6 tahun, dan satu yang masih di gendongan. Baginya itu pekerjaan mulia, jika dibanding dengan harus cari makan dengan mengemis atau korupsi. Begitulah ia. Rokayah lebih senang menyebut dirinya sendiri sebagai kaum yang berjuang dari pada menyebut dirinya sebagai fakir yang harus dikasihani.

Selama beberapa tahun ia mampu bertahan dengan keadaan itu. Tapi tidak saat ini. Ia menjadi tiba-tiba pesimis begitu mendengar pemerintah akan kembali menaikkan harga BBM. Tak bisa ia bayangkan harus seberapa keras lagi ia harus menempa dirinya. Bahan pangan akan naik, meskipun dengan menaikkan harga BBM itu pemerintah juga berjanji akan memberikan dana BLT kepada setiap warga miskin. Tapi siapa dia? Siapa Rokayah? Kartu identitas saja ia tak punya. Maka setelah berpikir pendek, jadilah Rokayah memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya. Kasihan sekali, Rokayah yang konon adalah seorang pejuang sejati bagi anak-anaknya itu, kini memilih untuk mati di ujung harga BBM.

Ia membeli beberapa racun tikus untuk meracuni dirinya—dan yang menyedihkan—juga  beserta dua anaknya.

Di bawah langit malam yang dingin itu, Rokayah berjalan ke tepi kali, ia berteriak keras dikuasai amarah, “Bajingan kalian! Pemerintah asu! genjek! kirek! tak sepatani kere pitung turunan!

Ia pun kemudian kembali ke gubug kardus, menghampiri dua anaknya dengan membawa secangkir besar teh yang telah dicampurinya dengan racun tikus. Bergiliran mereka meminumnya kemudian. Anak-anaknya tersenyum, merasakan betapa manis rasa teh yang diberikan ibunya. Tapi Rokayah malah menangis. Apalagi setelah melihat dua buah hatinya itu muntah-muntah di depannya. Ia jadi tak kuasa, ia berlari, meminta pertolongan kepada siapa saja. Berteriak. Dan sesekali berhenti membuang muntah dari mulutnya di rumput-rumput yang mendingin. Di matanya cahaya-cahaya mengular. Lantas dunia menjadi gulita tiba-tiba di hadapannya.

***

Di tempat itu udara terkadang begitu dingin. Rokayah sering menemui dirinya berperan sebagai seorang presiden wanita yang membagi beras dan minyak—yang ia petik dan pompa sendiri dari negrinya yang gemah ripah loh jinawi—gratis kepada rakyatnya. Kadang ia menemui dirinya tertidur di balik jeruji besi. Kali lain ia menemukan dirinya menangis resah seperti seorang ibu yang menunggu kepulangan dua anaknya dari pergi mencari kunang-kunang di kebun di pojok pintu.


Kediaman Hujan, 26 maret 2012


*terimakasih buat Gus Teja, atas alunan instrument Whispering of Hopes-nya yang merdu.

Kamis, 02 Februari 2012

Cerpen : Paijem Mbabu

Senang sekali Si Paijem kalau dipanggil guru ngaji dan teman-teman sepengajiannya dengan kata “Ukhti Paijem”, rasanya Islam banget. Tenang dihati, menurutnya. Ia berasa jadi seperti orang Arab, tempat di mana pertama kali agama yang dianutnya ini diturunkan. Paijem sudah tiga bulan ini ikut pengajian ibu-ibu di kampungnya, ia adalah janda yang memiliki satu anak lelaki yang masih berusia 8 tahun. Melihat anak ustdzahnya memanggil guru ngajinya itu dengan sebutan “Ummi”, maka Paijempun ikut-ikutan supaya terkesan lebih islami. Dan mulai sekarang, ia menyuruh satu-satunya anak laki-lakinya yang tadinya memanggil dia dengan sebutan “Emak” untuk memanggil dia dengan sebutan “Ummi”. Demi membahagiakan hati emaknya, anaknyapun nurut begitu saja. Betapa senang hati Paijem ketika mendengarnya.

       Paijem yang sehari-harinya cuma bekerja sebagai buruh tani kini mulai merasa resah dengan harga sembako yang semakin hari semakin melonjak tinggi, sementara gajinya sebagai buruh tani tak pernah mencukupi untuk kebutuhan hidup dia dan anaknya. Paijempun putar otak. Ia akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang TKW seperti Martini, teman sepengajiannya yang dulu pernah menjalani profesi itu. Martini pernah bekerja sebagai pembantu di Saudi Arabia. Ia kini kaya raya, dengan gaji yang ia kumpulkan selama empat tahun ketika menjadi pembantu dulu, ia kini membangun banyak usaha dagang di kampungnya. Maka, kini Paijem menghampiri Martini untuk bertanya panjang lebar perihal kerja di luar negri.
       “Mar, aku arep menyang Arab. (Mar, aku mau pergi ke Arab)” Katanya kepada Martini.
       “Arep nopo, Jem? (Mau ngapain, Jem?)”
       “Arep mbabu, ben cepet sugeh. (Mau jadi pembantu, biar cepat kaya)”
       “Tapi kerjo neng kono ki bejo-bejonan, lho.(Tapi bekerja di sana tuh tergantung sama keberuntungan, lho)”
       “Maksudte opo? (Maksudnya apa?)”
       “Yo, kerjo neng kono ki rak mesti intok majikan seng apek, nek intok majikan seng watak’e elek iso modiar kowe. (yah, kerja di sana itu tidak pasti dapat majikan yang baik, kalau dapat majikan yang wataknya buruk bisa mampus kamu)”
       “Lhoh, tapi neng kono kan wonge mayoritas Islam kabeh? (Lhoh tapi di sana kan orangnya mayoritas Islam semua?)”
       “Sopo kondo, arep Islam, arep Kresten, arep Yahudi, arep wong Arab, arep wong Amerika, arep wong Indonesia, podo wae! Kabeh ki kari wonge. (Siapa bilang, mau Islam, mau Kristen, mau Yahudi, mau orang Arab, mau orang Amerika, mau orang Indonesia, sama saja! Semua itu tergantung orangnya)”
       “Maksodmu, opo? (Maksud kamu, apa?)”
       “Yo, agama iku rak iso didadekno patok’an, kabeh tergantung seng melok. Lan kabeh seng melok iku rak mesti watak’e apek. Wong sejatine menungso urep neng ndonyo kuwi ono seng apek lan ono seng elek. Neng agama ndi wae mesti nduwe loro-lorone. (Ya, agama itu tidak bisa dijadiin patokan, semua tergantung pemeluknya. Dan semua yang memeluk itu tidak mesti sifatnya baik. Orang sejatinya manusia hidup di dunia itu ada yang baik dan ada yang buruk. Di agama manapun juga pasti punya dua-duanya)”
       “Mmm..”
       Paijem mulai berpikir.
       “Rak popolah, daripada anakku mati kaliren. (Tak apalah, daripada anakku mati kelaparan)”

       Paijem mendaftar. Tiga bulan setelah pelatihan di penampungan, Paijempun akhirnya diberangkatkan ke Saudi Arabia oleh penyalur tenaga kerja Indonesia. Ia merasa senang karena cita-citanya tercapai, namun tidak setelah bertemu majikannya. Benar kata Martini kalau bekerja di sana itu tergantung keberuntungan. Paijem mendapat majikan yang wataknya buruk, ia sering disiksa, dipukul, ditendang, disetrika dan bahkan digunduli. Setiap hari Paijem kenyang dengan kata “Kofi, ah!” oleh majikannya, kata yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Bodoh Kamu!”
       Di Indonesia, kabar penyiksaan Paijempun santer terdengar. Di televisi, di Koran-koran, hal itu menjadi topik pembicaraan yang hangat. Akhirnya banyak mahasiswa dan lembaga-lembaga yang bergerak dibidang kemanusiaan melakukan unjuk rasa besar-besaran agar Paijem diselamatkan dan dipulangkan ke tanah air Indonesia.
       Paijempun akhirnya dapat dipulangkan dengan kondisi yang mengenaskan. Hanya sesuatu yang dapat menghibur hatinya saat dia pulang, oleh masyarakat ia diberi gelar Pahlawan Devisa. Walau tak ada hadiah atau embel-embel apapun untuk melegitimasi hal itu, Paijem sudah cukup senang, paling tidak karena kata “Pahlawan” itu. Barangkali.

       Setengah tahun dibutuhkan Paijem untuk menyembuhkan traumanya. Begitu kondisi psikologisnya pulih total, ia mulai mengaji kembali. Karena pengajian adalah sesuatu yang bisa menentramkan hatinya.
       “Ajeng ten pundi, Ummi? (Mau kemana, Ummi?)” tanya anaknya.
       “Ojo undang 'Ummi' meneh, saiki undang ibu “Emak” wae. Mak’e arep pengajian. (Jangan panggil “Ummi” lagi, sekarang panggil ibu 'Emak' saja. Emak mau pergi ke pengajian)”
       “Injeh, Mak. (Baik, Mak)”

       Martini menghampiri Paijem untuk berangkat mengaji bersama. Ia mungkin adalah sahabat baik Paijem yang tidak bisa dipisahkan kecuali oleh kematian.
       “Paijem, ente arep mangkat ‘ra?. (Paijem, ente mau berangkat tidak?)” Kata Martini menghampiri Paijem.
       “Tak kandani ya, Mar. Aku dudu wong Arab, aku luweh seneng mbok undang  “Kowe” daripada mbok undang “Ente” .” (Kuberitahu ya, Mar. Aku bukan orang Arab, aku lebih suka kau panggil “Kamu” daripada kau panggil “Ente”)
       “Lho, ono opo mbek kowe, Jem? Biasane mesam-mesem yen tak undang ngono. (Lho, ada apa dengan kamu, Jem? Biasanya senyam-senyum kalau kupanggil seperti itu)”
       “Aku wes ngerti nek kuwi budaya Arab! Ojo teros dianggep ajaran Islam! Aku wong jowo, ojo sampek ilang jowone*! Mboh nopo saiki nek aku mbok undang 'Ente' aku malah koyok diundang karo penjajah ik (Aku sudah tahu kalau itu budaya Arab! Jangan terus dianggap ajaran Islam! Aku orang jawa, jangan sampai hilang jawanya! Entah kenapa ketika sekarang aku kau panggil 'Ente' aku jadi merasa seperti dipanggil oleh seorang penjajah nih)”
       “Heh?”
       “Yo, ojo padakke ajaran Islam karo ajaran Arab! Salah kaprah kowe! Wong agomo Islam iku ditekakke nggo menyempurnakan akhlak, ora kanggo ngrubah kebiasaan nenek moyang seng rak ngrusak moral lan iman! (Ya, jangan samakan ajaran Islam dengan ajaran Arab! Salah kaprah kamu! Orang agama Islam itu diturunkan untuk menyempurnakan akhlak, bukan untuk mengubah kebiasaan nenek moyang yang tidak merusak moral dan iman!)”
       “Jem, jem, wes tak kandani, mending mbiyen kowe ojo lungo neng Arab! (Jem, jem, sudah kubilang, mending dulu kamu jangan pergi ke Arab!)”
       “Aku rep mrono meneh, sopo ngerti intok majikan seng apek. (Aku mau ke sana lagi, siapa tahu dapat majikan yang baik)”
       “Opo?! Rak kapok kowe, yo? (Apa?! Tidak kapok kamu, ya?)”
       “Lha wes piye, aku memang iso bali neng Indonesia, tapi pemerentah ora iso njamen aku intok kerjaan seng mapan ngene ik, opo rak podo karo bunuh diri? (Lha habis gimana, aku memang bisa pulang ke Indonesia, tapi pemerintah tidak bisa menjamin aku dapat pekerjaan yang mapan begini nih, apa tidak sama dengan bunuh diri?)”
       “Edhian kowe, Jem!”. []


*Salah satu dari arti kata “Jawa” adalah “Nyawa”, maka orang jawa yang kehilangan jawanya bisa dibilang ia kehilangan nyawanya.

Jumat, 18 Februari 2011

Cerpen : Desa Baik Hati


Langit masih menurunkan gerimis kecil-kecil saat aku berjalan menyusuri pematang ladang sesawi dan lobak menuju sebuah gerbang desa yang sudah kuputuskan akan kusinggahi hingga beberapa hari ke depan untuk beristirahat. aku berpikir ini desa yang sangat tentram, terletak tepat di lereng gunung dan dikelilingi ladang-ladang bunga dan sayuran, ketika pertama melihatnya dari atas bukit tadi, aku membayangkan, dengan tinggal di sini, aku pasti akan melahirkan banyak tulisan-tulisan dengan kisah yang segar dan dalam.

Dua pohon damar besar  tumbuh berhadapan di sisi jalan sebagai gerbang desa, dua pohon itu disatukan dengan sebuah papan lebar berbentuk persegi yang dijalari tanaman bouganville ungu, terukir sebuah tulisan 'DESA BAIK HATI' di papan itu , pertama kali membacanya aku langsung ingat sebuah cerita yang beredar luas di desa yang aku temui sebelum ini, bahwa ada sebuah desa dengan nama yang sama dan letak geografis yang sama dengan desa ini. menurut cerita, desa itu walau namanya demikian, semua penduduknya tak pernah bersikap ramah kepada setiap pendatang yang berasal dari luar desa, semua akan menatap dengan sinis dan menutup warung yang ada ketika mengetahui bahwa ada orang asing yang masuk ke desa mereka. aku berpikir, jangan-jangan desa yang mereka maksud itu adalah desa ini, benar atau tidak, aku akan membuktikan dengan mata kepalaku sendiri.

Masih 50 meter dari gerbang desa sebelum aku benar-benar memasuki desa itu, gerombolan anak-anak di dalam desa itu sudah berteriak keras, "ADA PENDATANG, ADA PENDATANG...!!" tentu saja aku kaget, seluruh penduduk desa langsung keluar rumah dan menuju ke gerbang itu. aku tak tahu apa yang terjadi, tapi mereka semua berdiri di gerbang itu seolah menyambut kedatanganku. aku menyapa mereka dengan senyuman setelah sampai tepat di gerbang itu, "selamat siang..," kataku. mereka tidak menunjukkan ekspresi apapun dan malah saling menatap ke sesama mereka.

"Berapa hari kau akan tiggal di desa ini, nak?" kata seorang kakek tua yang baru saja turun dari pedati berisi tomat-tomat merahnya.

"Kalau boleh, saya akan tinggal selama tiga hari di desa ini." jawabku.

"Syukurlah.." kata mereka serempak sambil tersenyum bahagia.

aku tak tahu apa yang terjadi, yang kutahu ternyata desa ini tidak seperti yang dibicarakan orang-orang di desa sebelah tadi, mereka ramah, mereka menyambutku dengan hangat.

"Ayo tinggal di rumahku, kak" seorang lelaki kecil yang membawa sebuah pot plastik berisi bibit bouganville tiba-tiba memegang pergelangan tanganku dan mengajak aku untuk singgah di rumahnya. Tak bisa kutolak, aku menerima tawarannya dengan senang hati. Begitu juga dengan seluruh penduduk desa, mereka seperti bahagia jika aku mau tinggal di rumah keluarga anak itu.

“Siapa namamu, dik?” tanyaku.

“Panggil aku Penggembala Hujan” jawabnya sambil meringis.

“Oh, begitu ya? Baiklah. Aku Awan, Awan Tenggara lengkapnya.” Kataku sambil bercanda menusuk pelan perutnya dengan jari manisku.


***

“Kopinya, Nak.” Ayah si Penggembala Hujan membawa dua cangkir kopi, satu untukku, dan satu lagi untuknya. Kami bicara begitu akrab malam ini, tak banyak yang kami bicarakan tentang desa ini kecuali semua cerita tentang pengembaraanku.

Memandang desa ini sambil ngobrol dan minum kopi ketika malam di bawah terang bulan sungguh membuat hatiku tentram, kunang-kunang yang bertebaran, suara bancet, jejangkrik, hingga ciap burung-burung malam, seluruhnya melengkapi ketentraman dan tentu saja kesahajaan penduduk desa ini.

“Pak, esok saya mau jalan-jalan keliling desa..” kataku.

“Sama aku saja, Kak!” tiba-tiba si Penggembala Hujan memeluk erat tubuhku dari belakang sambil berteriak. Ayahnya hanya tersenyum.

“Iya, kau jalan-jalanlah bersama anakku, dia adalah pengagum alam sepertimu, dia pasti akan membawamu ke tempat-tempat paling indah di desa ini”

“Ah, terimakasih banyak, pak.”

Perbincangan itu tak bisa mengobati rasa lelahku karena perjalanan panjangku siang tadi, akupun mengistirahatkan tubuhku dan tidur hingga tak bisa bermimpi karena aku memikirkan perjalanan yang indah esok hari.


***


Pagi ini aku sudah berada di sebuah tempat yang nyaman, sebuah lahan bidang yang tidak terlalu luas, ditumbuhi rumput teki dan dikelilingi anyelir, lili, juga tak ketinggalan, bouganville ungu. Tempat ini terletak tepat di atas sungai bening yang mengalir pelan, mendengar gemericiknya membuatku ingin selalu menulis puisi, apalagi memandang tepat di depannya, sebuah gunung besar dengan hutan yang didominasi oleh pohon-pohon phinus yang tinggi berdiri menjulang di sana.

“Ini tempat rahasiaku, kak!” kata si Penggembala Hujan, “aku yang menanam semua bunga ini, juga semua bunga yang ada di desa, aku berharap suatu hari nanti aku bisa menjadi seorang insinyur pertanian”.

“Wah, kau hebat. Baiklah, kalau begitu mari kita pejamkan mata dan berdoa agar cita-citamu itu terkabul.”

“Apa tidak jadi masalah jika terkabul, kak?” kali ini si Penggembala Hujan bicara lirih padaku, matanya mencerminkan kesedihan.

“Lho kenapa memangnya, bukankah itu cita-cita yang mulia?”

“Aku berfikir begitu, tapi semua anak-anak desa mengataiku bodoh, ‘masak anak laki-laki suka tanaman? Huu.. bodoh..bodoh..’ begitulah mereka sering mengejekku.”

“Kau tidak bodoh, sudah kubilang kau ini hebat, kalau kau mau tahu seperti apa itu orang bodoh, aku akan bercerita padamu. Aku punya sebuah cerita tentang si bodoh.”

“Memang ada cerita seperti itu, kak? Baiklah, aku mau mendengarkannya.” Si penggembala hujan merapat ke sampingku dan mau mendengarkan ceritaku dengan serius.

“Oke, mari kita mulai, suatu hari ada seorang terbodoh di dunia pergi bertualang, karena kebodohannya, sampai di manapun ia selalu dibohongi, kali ini uang, pakaian dan sepatunya tertipu semua. Tapi petualang ini memang terlalu bodoh, hanya dengan satu kata ‘terimakasih’ saja, barangnya ditipu semua. Dan bodohnya lagi, dia malah menangisi orang yang membohonginya. Lalu memberikan semua harta benda yang ia miliki. Ia jadi miskin, tidak memiliki apapun. Petualang ini merasa malu, jadi ia memutuskan untuk bertualang ke hutan. He he bodoh ya..”

“Sampai di situ saja kisahnya?” si Penggembala Hujan menyela sambil mengerutkan dahi.

“Masih ada, mari kita lanjutkan. Kali ini dalam petualangannya di hutan, petualang bodoh itu bertemu dengan setan-setan. Setan-setan itu ingin memakan tubuh petualang itu, lalu mulai membohonginya. Petualang itu, karena saking bodohnya, ia bisa tertipu dan memberikan kaki dan tangannya kepada setan itu. Belum puas, setan itu menipunya lagi, hingga akhirnya petualang itu tinggal memiliki kepala saja. sambil memakan bagian tubuh petualang itu, sang setan berkata padanya bahwa ia akan memberikannya sebuah hadiah. Tapi ternyata itu hanya bohong belaka, karena ternyata hadiah yang diberikan setan itu adalah secarik kertas bertuliskan ‘MANUSIA BODOH!’. anehnya, petualang itu tetap bahagia karena seumur hidupnya, inilah pertama kalinya ia mendapatkan hadiah. Ia tak henti mengucapkan terimakasih kepada setan itu, betapa bodohnya…”

“Kemudian apa yang terjadi?”

“Petualang itu terus menangis karena bahagia, sampai akhir hayatnya ia tetap tidak tahu bahwa ia telah dibohongi, akhirnya petualang itu meninggal di hutan belantara seorang diri, tanpa siapa-siapa, semua setan menertawakannya  dengan geli. bodoh ‘kan…”

Si Penggembala Hujan mengerutkan keningnya lagi sambil menatap tajam wajahku, ia berkata, “Kenapa bodoh, kenapa kakak selalu meyebutnya bodoh setiap mengakhiri cerita? Menurutku, ia yang selalu ditipu tapi tetap mengucapkan terimakasih sambil meneteskan airmata bukanlah tindakan bodoh. Ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, itu pasti yang namanya keikhlasan, itu pasti karena Tuhan menganugerahi padanya cinta yang besar. Kalau aku bertemu dengannya, aku tak akan mencari kesempatan untuk bisa menipunya, aku ingin menolongnya, aku ingin membahagiakannya, orang seperti ini, aku pasti akan mengangkatnya menjadi saudara jika berjumpa.”

Aku tak habis pikir ada orang yang akan memberikan jawaban seperti itu usai mendengar cerita ini, aku merasa terpukul, mengingat orang yang mengutarakannya padaku adalah seorang anak kecil, aku jadi tahu bahwa umurku tidak pernah menjamin kedewasaanku. Aku memeluk kepala si Penggembala Hujan. Lalu berbisik padanya pelan-pelan;

“Kau tahu mengapa air di sungai itu memilih pergi dari mata air dan mengalir menuju ke tempat yang bahkan ia pun tidak tahu apakah tempat itu akan menerimanya? dia seperti halnya aku, ingin terus mengalir, dia mengembara, dia ingin menemui setiap hal yang tak pernah ia temui, hal yang akan membuka matanya, hal yang akan membuat ia kuat, hingga ia bisa menjadi besar seperti samudra. Intuisi dan percaya diri, itulah yang ia miliki. Ia tidak tahu akan sampai dimana perjalannya nanti, tapi dia selalu tahu bahwa dia akan bertemu dengan orang-orang yang dapat membesarkan jiwanya seperti kamu.”

Si Penggembala Hujan hanya tersenyum kecil, lalu kami menghabiskan hari itu berdua dengan memancing ikan di danau belakang desa.

***

“Kau boleh jadi petualang dan penulis seperti kak Awan kalau kau mau, ikutlah dengannya, ayah dan ibu pasti bahagia.” Kata ayah si Penggembala Hujan saat kami semua menikmati teh di ruang keluarga. Tapi si Penggembala Hujan tidak mau dan memilih tinggal di desa, meski sebenarnya ia ingin ikut berpetualang bersamaku, entahlah, aku juga tak tahu, seperti ada sebuah isyarat dalam mata keluarga ini saat kami berbincang.

 Ini hari ketiga sejak aku memasuki desa ini, aku tidak tahu bahwa tinggal di desa ini akan begini nyaman, maka akhirnya akupun memutuskan untuk tinggal lebih lama di sini. Belum sempat aku bilang pada yang punya rumah, seluruh penduduk desa sudah berkumpul di depan rumah si Penggembala Hujan, tak ada keperluan apapun kecuali untuk bertemu denganku. Dan akupun keluar untuk menemui mereka.

“Tuan Awan, apa anda betah tinggal di desa ini?”

“Ah, iya. saya sangat bahagia tinggal di sini, rencananya saya akan menambah hari untuk bisa tinggal lebih lama..”

“Ah, bukankah tuan sudah berjanji kalau tuan hanya akan tinggal tiga hari saja di desa ini?” tatapan mereka begitu sedih, terlihat seperti ingin agar aku bisa tetap tinggal di sini lebih lama, tapi pertanyaan mereka barusan, dari intonasinya aku tahu bahwa mereka juga hendak mengusirku. Lagi-lagi aku dibuat tak paham, atmosfir seperti ini, persis seperti dengan yang kurasakan ketika aku bicara dengan keluarga si Penggembala Hujan tadi.

“Baiklah, saya paham. Nanti siang saya akan pergi dari sini.” Aku mencoba memahami dan memberikan mereka senyum termanisku.

Mereka sangat bahagia, bahkan ketika aku pergi, setiap penduduk memberiku oleh-oleh. Aku tak tahu apa yang terjadi, ini terasa seperti bahwa aku adalah malaikat yang baru saja turun dari langit dan menyebarkan kebahagiaan di desa ini.

Terakhir sebelum aku pergi, si Penggembala Hujan memelukku eret-erat, ia menangis dan memberi aku sepucuk surat.

“Kakak, terimakasih. Aku bahagia bertemu kak Awan Tenggara. Hati-hati di jalan ya..” itulah kata-kata terakhirnya yang ia ucapkan padaku. Aku mencium kepalanya, kemudian berpaling pergi.

Tanpa sadar setelah memunggungi mereka, tak terasa kedua mataku meneteskan airmata. “ini sungguh desa yang baik hati, desa yang baik hati! Apa yang orang-orang desa sebelah pikirkan sehingga mengatakan hal yang sebaliknya tentang desa ini…” aku berjalan sambil mencoba mencari jawaban dari pertanyaan hatiku sendiri, namun jawaban itu tidak bisa kutemukan. Sama sekali tak bisa.


***

Aku mendirikan tenda di sebuah bukit yang jaraknya sangat jauh dari DESA BAIK HATI itu, namun jika melihat ke arah selatan, desa itu masih bisa terlihat meskipun kecil, di belakangnya sebuah gunung yang besar berdiri kokoh, terlihat seperti penjaga kedamaian bagi penduduk desa yang asri itu.

Malam harinya, sesuatu membangunkanku secara tiba-tiba, sebuah suara ledakan yang besar! Ah, ternyata, aku menatap dengan mata kepalaku sendiri, DESA BAIK HATI itu telah hilang ditelan lahar merah yang menyala-nyala dari gunung di belakangnya. Aku tak bisa mengungkapkan kesedihanku ketika mengingat semua perlakuan penduduk desa kepadaku selama aku tinggal di sana, dari situ aku ingat, bahwa sebelum aku pergi Si Penggembala Hujan memberiku sepucuk surat, diterangi sebatang lilin diantara suara ledakan gunung yang menggelegaar itu, aku membaca suratnya;

Kak Awan Tenggara yang kusayangi,

Tiga hari bersamamu, kak. Rasanya begitu kurang. Seandainya boleh, aku ingin kakak bisa lebih lama lagi tinggal di rumah kami, bahkan selamanyapun tak apa semisal kak Awan mau.

Mungkin kakak merasa bahwa penduduk desa seperti mengusir kakak pada hari ketiga saat kunjungan kakak ke desa kami. Sebenarnya benar, bahwa kami ingin kakak pergi dari desa kami hari itu, namun itu semua kami lakukan bukan tanpa alasan. Sebulan lalu, orang paling sakti di desa kami meramalkan bahwa gunung yang selama ini menaungi desa kami akan membawa kami pergi, itulah takdir kami, dan kami siap menunggunya, kami tak boleh menolak takdir itu.

Dulu, pendatang yang datang ke desa kami selalu bermalam paling sedikit dua bulan lamanya. Namun sejak ramalan itu ada, kepala desa membuat kebijakan bahwa setiap pendatang asing tidak boleh bermalam di desa kami melebihi tiga hari. Ironisnya, setelah peraturan itu ada, malah sama sekali tak ada pendatang yang mengunjungi desa kami. Segala gosip buruk tentang desa kamipun bermunculan. Kami jadi sedih, untungnya, tiga hari sebelum ramalan itu benar-benar terjadi, kakak datang ke desa kami. Kami bahagia karena kakaklah yang mengobati rindu kami untuk menyambut orang asing dengan bahagia. Itulah alasannya kenapa juga ketika kakak pergi, seluruh penduduk desa memberi cinderamata untuk kakak. Sebenarnya itu bukan apa-apa, itu hanya ucapan terimakasih bahwa kakak telah membuat kami bahagia.

Terimakasih banyak, kak. Aku menyayangimu. Semoga kelak kita bisa berjumpa lagi di
surga.


Membaca surat itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa duduk terpaku selama berjam-jam menatap lahar yang terus mengalir melamun desa itu. Aku seperti telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Entahlah, aku menjadi seperti orang gila, seperti orang gila. (*)

THE END

 *Diadopsi dari serial Anime Kino's Jorney dan Fruit Basket

Sarang Angin, 12 Oktober 2010

Cerpen : Peniup Seruling dari Hamelin

Gambar karya Freiherr Augustin von Moersperg, diunduh dari Wikipedia

*terinspirasi dari dongeng klasik asal Jerman berjudul Der Rattenfänger von Hameln (Pied Piper of Hamelin) dan Manga Akuma no Hanayome-nya Ashibe Yuho-Sensei. 


Alfred berdiri sendirian di depan pintu tenda malam itu dengan membawa segelas Champagne, ia mondar-mandir dengan gelisah lantaran memikirkan keadaan sirkus yang ia kelola dan dirikan di sudut kota Falkland sejak seminggu yang lalu. Sirkus itu selalu sepi pengunjung. Barangkali jika malam itu tak ada seorang badut yang datang menghampirinya untuk menawarkan diri sebagai anggota di sirkusnya, dia sudah meledakkan kepalanya sendiri dengan pistol yang malam itu juga ia tenteng-tenteng. Sebab sepertinya, dia sudah tak kuat lagi memikirkan masa depan sirkusnya yang sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkrutan itu.

       Clifford, demikianlah badut yang menghampirinya itu memperkenalkan namanya, ia mengaku berasal dari kota Hamelin. Konon dengan seruling yang dibawanya, ia mampu menghipnotis tikus-tikus di kotanya dan membuat tikus-tikus itu jatuh ke sungai Weser dengan sendirinya. Namun Alfred tidak bisa begitu saja percaya dengan cerita konyol yang dibuat oleh badut itu. Alfred jelas tak bisa dibodohi karena dia juga orang asli Jerman. Ia tahu, cerita badut itu hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur anak-anak karya Brother Grimms.
        Tanpa kebohongan muluk-muluk yang dibuat Cliffordpun, Alfred tetap akan menolak permintaan badut itu untuk bekerja padanya. Pasalnya ia benar-benar sudah tak punya uang lagi. Jangankan untuk membayar orang baru, untuk membayar anggota yang saat ini ada saja ia harus hutang kepada adiknya yang memilih mengurusi perkebunan anggur warisan orangtuanya di kampung. Namun Clifford tetap tidak mau menyerah, ia bersikeras agar bisa diterima sebagai anggota di sirkus yang dikelola Alfred itu, dengan caranya, ia mencoba meyakinkan Alfred, hingga akhirnya Alfredpun menyerah dan menerimanya, setelah sebelumnya ada sedikit perdebatan sengit di antara mereka :

       “Bah! Aku tak butuh anggota seorang badut di sirkus ini, sebaiknya kau pergi dari  hadapanku sebelum pistol di tanganku ini meledakkan kepalamu!” kata Alfred jengkel.
       Clifford diam dan menyunggingkan sebersit senyum yang misterius.
       “Kau dengar tidak? Hey?!!” Bentak Alfred lagi.
       “Mungkin anda ini menderita darah tinggi, ya?” Clifford memejamkan mata, sambil tersenyum, ia berbicara kepada Alfred tanpa sedikitpun emosi.
       Alfred langsung mengarahkan moncong pistolnya tepat di depan hidung badut yang bulat dan semerah buah cerry itu.
       “Ada apa ini, tuan Alfred?!” kata Kodi dan Gesicth saat keluar tenda bersamaan sebab mendengar keributan. Mereka berdua adalah anggota sirkus itu yang masih tersisa selain binatang-binatang yang kurus.
      “Biadab ini, tolong usir dia dari hadapanku!” kata Alfred tidak bisa menahan emosi.
       Kodi dan Gesicth pun langsung menghampiri Clifford untuk mengusirnya.
       “Tunggu.” Clifford mengarahkan jari telunjuknya ke moncong pistol tuan Alfred yang saat itu belum juga diturunkan. “Adalah benar, bahwa saya mau menawarkan diri untuk menjadi seorang anggota di sirkus ini, tapi jika anda menerima saya, anda tidak perlu membayar saya. Saya janji akan bekerja dengan baik.” Clifford tersenyum lebar. ”Bagaimana?”
       “Apa kau sedang bercanda? Jangan-jangan kau ini memang orang gila di kota ini, mana ada penduduk kota biasa mau memakai pakaian badut sepertimu malam-malam begini?” kata Kodi.
       “Oh, jangan mengatai saya sebagai orang gila, itu tidak sopan namanya. Loyalitas, sayang. aku ini type orang perfeksionis. Jadi untuk melamar sebagai badut di sebuah sirkus, aku harus menjadi badut. Ha ha ha.” Clifford tertawa keras, mencabut jari telunjuknya dari moncong pistol Alfred dan menggaruk-garuk kepalanya. Dengan wajah dingin ia lalu menatap wajah Alfred. “Saya berkata serius, tuan. Saya akan bekerja di sirkus anda tanpa bayaran selama tujuh hari.”
       “Tujuh hari? Ya, setelah tujuh hari kau akan pergi dengan membawa lari semua uangku. Begitu ‘kan maksudmu?!” bentak Alfred.
       “Ah, lagi-lagi. Apalagi mengatai saya sebagai pencuri, itu lebih tidak sopan dari mengatai saya sebagai orang yang gila, tuan. Saya tidak bohong dengan berkata akan bekerja di sirkus anda ini selama tujuh hari tanpa bayaran, tapi saya juga punya satu syarat yang wajib anda penuhi.”
       “Apa?”
       “Saya tahu, sejak pertama berdiri di Falkland ini, sirkus anda selalu sepi. Jelas saja, anda hanya punya dua anggota dan beberapa binatang yang kurus-kurus, tidak ada macan, tidak ada gajah. Ya orang mana ada yang mau datang..”
       “Jangan ceramah di depanku! Katakan saja apa syaratnya!”
       “Baiklah. Jadi, tujuh hari kerja saya tanpa bayaran adalah jika sirkus ini tetap sepi, namun seandainya dalam tujuh hari tersebut saya berhasil membuat sirkus anda ramai pengunjung, maka anda harus memberikan setengah dari hasil pertunjukan kepada saya. Bagaimana, apa anda setuju?”
       Alfred menimbang-nimbang.
       “Baiklah, aku setuju.” Kata Alfred seraya menurunkan pistolnya dan menyelipkannya di pinggang.
       Kodi dan Gesicth hanya terdiam, walau dalam hati mereka berdua memendam rasa gembira karena mendapat teman baru.

       Dan sembari menunggu hari menjadi pagi untuk penampilannya yang pertama kali di sirkus itu, Clifford duduk di sebuah dahan pohon, mengeluarkan seruling yang ia selipkan di belakang celananya, lalu meniupnya. Kunang-kunang menghampirinya, beratus-ratus, beribu-ribu, berjuta-juta. Halaman sirkus itu menjadi terang, seperti ada sebuah pesta tengah diselenggarakan di sana.

***

Lebih dari perjanjian, ini adalah hari ke-24. Clifford menghampiri Alfred untuk meminta imbalan sesuai perjanjian yang telah mereka sepakati.
       “Sirkus ini sudah ramai, sudah punya gajah, sudah punya macan. Tapi tetap saja, saya ini pecinta kebebasan. Jadi, tuan, saya mau mengundurkan diri hari ini. Dulu setelah tujuh hari, saya berhasil membuat sirkus ini ramai, tapi anda menahan saya agar tinggal lebih lama lagi di sini sebab peran badut saya yang selalu dinantikan anak-anak. Dan akhirnya saya menyanggupinya karena anda berjanji akan menikahkan saya dengan putri angkat anda, Kodi. Dan Kodi juga setuju dengan perjanjian ini.“ Clifford mendesah. “Hhh, Jadi, tuan. Sesuai perjanjian yang telah kita sepakati dulu, saya mau minta setengah uang dari hasil pertunjukan sebelum saya pergi. Saya ingin hidup bebas.”
       Alfred tersenyum. Ia membuka matanya lebar-lebar, lalu mengarahkan moncong pistol ke arah Clifford dan..
       DOR!!
       Ia memuntahkan peluru dari pistol di tangannya tidak ke tubuh Clifford, namun ke pintu yang ada di samping tempat Clifford berdiri.
       “Memang benar kau telah membuat sirkus ini besar, tapi kalau kau ingin pergi, pergilah! Aku bisa mencari badut yang baru. Dan, hey, kau jangan bermimpi bahwa aku akan memberikan setengah dari uang hasil pertunjukan sirkus ini kepadamu, kutampung di sini dan kuberi makan saja kau sebaiknya sudah harus merasa sangat bersyukur!”
       “Tapi, tuan Alfred. Dulu anda ‘kan sudah berjanji mau..”
       “Hey, badut jelek! Jangan sampai peluru kedua dari pistolku ini mendarat tepat ke kepalamu.”

Clifford menyerah, ia menundukkan kepala, tanda menyesal karena telah dibohongi. Ia berjalan pelan-pelan ke ruang rias menagih janji kepada Kodi yang 17 hari lalu juga berjanji mau menikah dan membangun rumah tangga bersamanya. Sesampainya di sana, Clifford justru mendapati sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan, ia melihat Kodi sedang membuka brangkas tuan Alfred—mencuri uang dari dalam sana dan memasukkannya tergesa-gesa ke kantongnya.

       “Ah? Clifford?!!” kata Kodi kaget. Ia menghampiri Clifford, lalu menciumnya dengan mesra. “Janji jangan bilang ke ayah angkatku ya, sayang.”
       “Tidak akan. Itu tidak akan pernah terjadi. Karena tuan Alfred telah mengusirku dari sirkus ini.”
       “Ah, benarkah ayah mengusirmu? Lalu?”
       “Aku datang ke sini mau menagih janji. Kau dulu pernah bilang mau menikah denganku, jadi sebaiknya sekarang kau ikut aku..”
       “E..e.., baiklah. Tapi nanti ya, sayang. Aku mau ada pertunjukan setelah ini. Dan untuk antisipasi agar ayah tidak menemukanmu, maka kau harus mencari tempat sembunyi. Sebentar, biar kucarikan.” Kodi melirik seluruh isi ruangan, gadis itu seperti sedang merencanakan sesuatu. “Ah?! Dapat!”

      Kemudian Cliffordpun sembunyi di sebuah kotak yang ditunjuk Kodi agar tak ketahuan Alfred sembari menunggu gadis manis itu selesai beraksi di panggung sirkus untuk kemudian pergi dengannya. Ia masuk ke sana setelah sebelumnya meminum sesuatu yang telah dicampuri obat tidur oleh Kodi.
KLEK!
Kodi menggembok kotak itu dari luar dan pergi dengan wajah yang menyeringai, ia meninggalkan Clifford yang tertidur seorang diri di dalam kotak itu, sebuah kotak untuk trik sulap—kotak tusukan pedang maut.

***

Ia kembali dengan wajah yang cerah, kelihatannya ia sangat bahagia sekali karena telah berhasil menipu seseorang yang terpaksa dicintainya agar sirkus ayah angkatnya tetap jaya. Menuju ke ruang rias, digandengnya tangan Gesicth, partner sekaligus lelaki yang sebenarnya ia cintai menuju kotak tempat Clifford tertidur.
       “Dia ada di dalam sini,”
       “Siapa?”
       “Clifford, badut jelek itu..”
       “Lalu?”
       “Dia telah memergokiku ketika mencuri uang tuan Alfred dari brangkasnya untuk kencan kita nanti malam.”
       “Hah? Bahaya!”
       “Benar, nih!” Kodi memberikan beberapa pedang ke Gesicth. “Tusuk dia! Nanti kita bisa membuang mayatnya ketika di perjalanan.”
       “Benar juga, lagian berani-beraninya dia merebutmu dari sisiku.”
       JREB!
       JREB!!
       JREB!!!
Gesicth menusuk kotak itu dengan pedang tanpa ragu-ragu. Suara rintihan seorang lelaki terdengar beberapa saat dari dalam kotak itu, kemudian senyap.
       “Nah, dia sudah mati!”
       Kodi dan Gesicth tertawa. Di antara suara tawa itu, suara seruling lamat-lamat terdengar, lalu semakin keras, lalu semakin keras! Di belakang mereka, tepat di depan pintu, Clifford tengah asyik memainkan serulingnya sambil menatap mereka berdua dengan dingin.
       “Hah? Kau di sana? Jadi, yang di dalam kotak ini, yy,y.. yang merintih kesakitan tadi siapa?”
       Kodipun membuka kotak pedang maut itu. Terperanjatlah dia beserta Gesicth begitu tahu mayat yang ada di dalam kotak itu adalah Alfred—majikan mereka!
       “Ha ha ha ha ha,” Clifford tertawa puas. “Masa’ trik seperti itu saja kalian tidak tahu?! Pesulap macam apa kau ini, Gesicth!”
       Clifford kembali memainkan serulingnya. Ribuan tikus keluar mendengar merdu lagu yang ia mainkan, merayap menghampiri Kodi dan Gesicth, mereka berdua berteriak kesakitan hingga mati sebab tubuhnya digerogoti tikus-tikus itu pelan-pelan.

       Clifford pergi dengan hati yang riang, sampai di pintu keluar ia menemukan sebuah kaca yang besar, ia tertawa melihat bayangan tubuhnya sendiri, ada dua taring di antara barisan giginya, lalu ia menyelipkan serulingnya di belakang celananya. Kedua tangannya meraba sesuatu yang ada di kepalanya—sepasang tanduk hitam.
       “Ha ha ha, dasar manusia, kalian lupa kalau aku datang ke dunia ini untuk menggoda kalian agar masuk ke neraka? Bodoh!”
       Diapun berbalik dan melanjutkan langkahnya..    



Sarang Angin, 15-16 Januari 2011

Cerpen : Kisah Ponirah dan Pizza Impiannya


Begitu melihat iklan pizza di tv tetangganya, Ponirah, gadis berumur sebelas tahun itu tergiur dan langsung menempatkan "makan pizza" ke dalam daftar mimpi di buku hariannya. Tak ayal setiap hari ia mengumpulkan uang dari hasil mengupas bawang—kerja sambilan yang selalu ia lakukan usai pulang sekolah demi mewujudkan mimpinya itu. Maklum, bapaknya sudah tak ada dan ia hanya tinggal bersama ibu yang bekerja di sebuah perkebunan apel dengan gaji tak seberapa beserta tujuh orang adiknya yang masih kecil-kecil. Oleh sebab itu, untuk uang saku, Ponirah sering mencarinya sendiri dari kerja sambilannya mengupas bawang atau mencuci baju di tetangganya.

       Ia begitu sabar mengumpulkan uang lembar demi lembar di celengannya tiap hari dan tak pernah alpa menghitung-hitung harga Pizza dengan biaya transportasinya sekalian, karena Pizza hanya bisa dibeli di kota.

       Di ketika ia merasa bahwa uang yang ada di celengannya sudah cukup untuk membeli mimpi makan Pizzanya, ia memecah celengan ayamnya dan langsung pergi ke kota untuk mewujudkan mimpinya itu
.
       Setelah menempuh berjam-jam perjalanan ke kota, sampailah dia pada sebuah restoran Pizza di mall yang alamatnya ia tahu dari bertanya pada tetangganya. Ponirah tersenyum, ia melangkah masuk dengan pakaiannya yang sudah ketinggalan trend kota. Ia hanya memakai daster kembang-kembang dan sandal jepit swallow berwarna hijau yang selipannya bermotif retak-retak, bukan karena bawaan dari pabrik, tapi karena terlalu sering terkena panas dan hujan. Ia pikir itulah kostumnya yang paling indah. Waiters restoran Pizza sontak melihatnya dengan dingin saat melihat gadis kecil itu masuk restoran, tak pernah ada orang dengan gaya seudik Ponirah masuk ke sana. Apa yang mau dia lakukan di sini, mengemis? Batinnya.

       Walau setelah masuk ke restoran Pizza itu dan melihat orang-orang yang makan Pizza di dalam membuatnya sadar kalau pakaiannya sudah tidak sesuai jaman, Ponirah tetap tak ambil pusing dengan gayanya. Tanpa basa-basi gadis desa itu bertanya kepada seorang petugas kasir.

       “Mbak, berapa harga Pizza yang itu?”
       “Tiga puluh tiga rrribu.” Petugas itu menjawabnya dengan dingin. Ia pikir gadis itu hanya sekedar bertanya untuk kemudian pergi lagi.
       Ponirah tersenyum. Barangkali karena sebentar lagi mimpi kecilnya untuk makan Pizza akan terwujud.
       “Saya mau beli satu, mbak. Dibungkus saja.”
       “Yang itu?”
       “Ya.”
       Setelah menunggu beberapa saat, pesanan Ponirahpun datang, ia mulai menghitung uangnya yang bergambar kapiten patimura semua sebanyak 33 lembar. Petugas kasir memandangnya dengan sinis, baru kali ini ia dapat costumer yang membayar dengan uang seribuan semua.
       “Ini, mbak. Uangnya.”
       "Terimakasih." Petugas kasir itu tersenyum kecil—senyum yang jelas sekali dipaksakan.

       Pizza sudah di tangan Ponirah, namun gadis itu tak lekas pergi. Ia masih berdiri di dalam sana mengobok-ngobok tasnya yang kumal. Mencari ruang untuk menempatkan Pizzanya? Rasanya tidak. Tak heran petugas kasir itu semakin menatapnya dingin, berharap gadis itu segera berlalu dari hadapannya karena penampilannya yang notabene sangat merusak pemandangan mata orang-orang kota.
       Setelah beberapa saat, Ponirah mengeluarkan sebuah bungkusan plastik dari tas kumalnya itu.

       “Ini, mbak. Untuk mbak dan teman-teman.” Ponirah tersenyum sambil memberikan bungkusan itu kepada petugas kasir. “Ini sekilo apel, oleh-oleh dari kampung.”

       Ponirah berlalu dari tempat itu, ia tampak riang sekali berjalan membawa sekardus mimpi yang berhasil ia beli, mimpi yang sebentar lagi ia bagi-bagi dengan ibu dan tujuh orang adiknya. Sementara petugas kasir berdiri terpaku dengan sebungkus apel di tangannya dan menatap Ponirah yang berjalan polos dengan sangat haru. Beberapa saat ia menunduk. Barangkali, ia menyesal atas perlakuan yang ia berikan terhadap Ponirah tadi. Barangkali juga, ia malu karena dirinya tak tumbuh sebagai pribadi yang baik sebaik gadis yang terus ia perhatikan sampai hilang itu. Semoga.

Feb, 2011

Cerpen : Hujan yang Menyambut Kepulanganmu

*Cerpen ini merupakan permintaan dari kerabat dekatku di dunia maya ini. ia memberiku sebuah gambar dan menyuruhku untuk merubah gambar itu menjadi sebuah cerita pendek. bayangkan, hanya sebuah gambar!  ^^' twew
dan akhirnya, setelah sekian lama, aku berhasil juga membuatnya (tapi ketok'e wagu banget ik), barangkali aku tak pandai bikin cerpen tentang cinca ya... ha ha simak saja kalau nggak percaya. yuk maree..


Entah kenapa aku tak pernah paham, bagaimana ketika berada di dekatmu denyar nadiku bisa menjadi begitu lain. Ataukah mungkin karena ada sebuah ikatan yang kini telah berubah dari sekedar persahabatan antara aku—Amanda yang sangat centil—dengan engkau—Azward yang selalu pemalu?

       Hari itu tanggal 4 Februari. Hari kepulanganmu. Perjumpaan kita kembali setelah lima tahun sebelum itu kau pergi dari “Tanah Cerita” yang sejak kecil selalu kau dan aku kunjungi. Aku berharap ketika itu, kau tak lupa tentang apa yang pernah ada di sana. Tentang bagaimana di tempat itu dulu kita saling bertukar cerita atau sekedar berbagi suka dan duka. Kendati lima tahun engkau telah pergi meninggalkannya.
       Semisal tentang ketika di sana kita mengadu kepada Tuhan akan takdir yang kita rasa tak pernah adil seraya menatap kecapung-kecapung yang lalu-lalang di udara. Atau sekedar duduk diam menatap tingkah polah burung-burung gelatik yang berjingkat dari satu pucuk kembang tebu ke pucuk kembang tebu yang lain.
       Tentu, juga tentang warna langit sore di atas tempat itu yang sebiru safir, yang senantiasa membuat kita berdua betah berlama-lama berbaring memandangnya, sembari mencium pekat wangi garam yang menguar dari pantai utara tiap ombak membawa air-air laut debur ke batu-batu karang. Di sana, di “Tanah Cerita” itu—Markas rahasia kita berdua.

**

       Ketika itu hujan turun dengan sangat deras sebelum kereta yang kau tumpangi berhenti di stasiun yang di dalamnya ada aku sedang menjemputmu.
       Aku memilih berdiri di ujung peron untuk menanti kedatanganmu dengan sepasang mata yang cemas dan membiarkan hujan tempias di wajahku, sebab aku tak mau melewatkan dan demikian ingin membingkai dalam ingatan setiap detik pertemuan pertamaku denganmu setelah lima tahun berpisah.
       Sesekali orang-orang meneriakiku agar aku duduk pada bangku kosong di samping mereka lantaran khawatir melihat pakaianku yang membasah perlahan. Namun aku hanya membalas mereka dengan sebuah senyuman. Sekali saja. Dan mereka akan langsung diam. Barangkali dari senyumanku itu mereka telah langsung dapat membaca cerita, kalau orang yang sedang kutunggu kedatangannya itu adalah orang yang sangat kucinta. Ah, tapi ketika itu aku masih belum mampu membenarkannya.
       Lalu aku, ketika akhirnya menyimak keretamu datang melambat dari kejauhan dengan lampu-lampunya yang nyala menembus rinai-rinai, jantungku seketika degab merancu. Aku mendengar suara-suara yang sangat keras muncul dari dalam dadaku. Lebih keras daripada suara hujan yang berkertapan di atas langit-langit peron, bahkan juga lebih tak beraturan daripada derak gerbong kereta yang membawamu pulang itu. Yang akhirnya satu persatu melintas jelas di depanku, dengan kaca-kaca pintu yang seolah berkata, “Tebak, dari mana akan keluar orang yang kau tunggu?”
       Aku mencarimu dari satu pintu ke pintu yang lain, tapi tak kutemukan engkau. Mungkin karena kau tak benar-benar pulang seperti apa yang telah dikatakan keluargamu padaku, atau mungkin kau lebih dulu turun sebelum aku sampai pada pintu di mana engkau telah keluar berjalan.
       TEP!
       Dan akhirnya, tepukan yang hangat dan lembut itu mendarat juga di pundakku— tepukan tanganmu yang tetap sama seperti dulu. Seketika kerinduanku akan sentuhmu lunas. Apalagi saat aku tahu kalau kau tak pernah lupa dengan wajahku walaupun telah lima tahun kita tak pernah saling bertemu.
       Ketika itu aku begitu lama menatap ke kedalaman matamu, tapi kau hanya tersenyum. Hingga akhirnya aku menjadi sadar kalau saat itu kau sudah tak lagi sama dengan Azward yang kukenal dulu. Entah kenapa, rasanya ketika itu aku jadi ingin sekali menundukkan kepala usai melihat caramu membalas tatapan mataku, seperti bagaimana dulu aku kau paksa untuk diam dan khidmat menyimak kesahajaan kata juga kerendah hatianmu. Dan saat itu, sekali lagi aku memutar cerita yang pernah kita lalui dalam kepalaku—mencoba menemukan kembali alasan kenapa aku ingin sekali berada di sampingmu.
       Aku kembali ingat bagaimana dulu engkau tetap menerimaku sebagai sahabat kendati agama kita tak sama. Engkau kerap meyakinkanku bahwa perbedaan tak pernah menjadi sesuatu yang akan mampu memisahkan kita. Sehingga kau tak pernah ragu untuk mendengar bunyi lonceng gereja tempat aku bersembahyang karena kau suka. Dan demikian juga dengan aku, aku juga akhirnya tak pernah ragu mengakui kekagumanku akan kumandang adzan yang merdu dari puncak menara masjid tempat ibadahmu.
       “Tuhan itu satu, hanya saja kita—kau dan aku—menyembahnya dengan cara yang berbeda.” Begitulah dulu engkau selalu berkata padaku jika hatiku gundah memikirkan jurang yang sekali waktu—mungkin—bisa memisahkan kita. Itulah juga yang akhirnya menjadi alasan kenapa aku selalu merasa nyaman jika berada di dekatmu.
       Kau juga kerap mengatakan padaku kalau kebenaran hanya akan bisa muncul dari kebijaksanaan. Dan kesahajaanmu itulah yang membuatku merasa sangat kehilangan dirimu ketika engkau berlalu.

       Lima tahun, kota besar yang mendidikmu, dan kesepianku karena kehilanganmu ternyata telah mengubah banyak hal dalam diri kita. Kau dan aku seperti telah bertukar mata, bahkan mungkin hati. Aku menjadi engkau yang pemalu yang hanya akan mengatakan hal-hal penting saja kalau bicara, dan engkau menjadi aku yang sanguinis dan tak pernah kehabisan kata-kata untuk terus bercerita..
       Lebih dari itu, ternyata ketika itu aku melihat ada jarak yang terasa begitu berbeda saat kita berdiri dan berjalan pulang di bawah payung yang sama, kendati saat masih kanak-kanak dulu kita berdua begitu sering melakukannya. Mungkin saja karena masing-masing kita telah dewasa. Atau mungkin, jangan-jangan aku tak menyadari kalau saat itu kepadamu aku telah jatuh cinta.
       Ingin sekali aku bertanya padamu satu hal saat itu, tapi ternyata kaulah yang lebih dulu mengatakan padaku sesuatu. Sesuatu yang ternyata begitu purna melindap segala rindu yang seharian itu membuncah dalam dadaku. Rindu itu hilang, lenyap bukan oleh karena aku sudah melihat keseluruhan dirimu. Namun oleh kabar yang bibirmu ujar.
       Kau akan menikah pada bulan ke lima, begitulah katamu padaku sebelum aku sempat menanyakan apakah di kota engkau sudah punya seorang kekasih. Dan itulah alasan yang membuatku merasa kenapa ketika itu aku tak lagi pantas untuk merindukanmu.
       Maka akhirnya aku memilih menghentikan langkahku saat kau bicara panjang lebar tentang calon pengantinmu. Kau begitu senang menceritakan kesempurnaannya, sampai tak sadar kalau aku telah kuyup berdiri di belakangmu.
       “Kau bodoh, apa yang kau lakukan di sana?” Itulah yang kau kata sambil tertawa hari itu ketika kau sadar kalau aku sudah tak lagi sepayung denganmu..
       “Sudah lama tidak main hujan-hujanan, kau mau ikut?” Dan aku tak pernah lupa seperti itulah aku menimpali tanyamu, dengan tanya lain yang hanya kau jawab dengan sedikit senyuman dan gelengan kepala di bawah payung yang tak juga kau katupkan.
       Dan sebenarnya, jika aku berani memberitahumu. Hari itu, aku berhenti bukan karena aku ingin seperti apa yang aku katakan, namun tak lain karena aku tak ingin kau melihat Amanda yang dulu selalu kau kenal sebagai gadis tegar menangis di depanmu. Aku selalu percaya, bahwa hujan selalu dapat menyembunyikan air mata. Sebab itulah hari itu aku lebih memilih berdiri di bawah hujan agar kau tak bisa melihat air mataku.

       Dan saat ini, dua tahun setelah hari itu. Aku bercerita tentangmu dan tentang itu semua kepada angin dan tetumbuhan perdu sambil menengadahkan wajah ke langit, di “Tanah Cerita” yang kini kian senyap sebab tak lagi ada engkau yang barang sejenak duduk diam seperti dulu. Aku sendirian. Begitu dingin, seperti hujan yang ketika itu menyambut kepulanganmu. (*)



Bekasi, Februari 2011

Minggu, 03 Oktober 2010

Cerpen : Sutirah Ingin Sekolah


Diangkat dari sebuah kisah nyata.

; “di negri ini, kalau kau tidak punya uang, maka kau tidak boleh menjadi pandai!”

3 Maret 1994, hari itu Intan tengah merayakan ulang tahunnya yang ke-11 di rumahnya yang megah, semua teman sekolahnya hadir pada acara itu, demikian pula saudara-saudara dekatnya. pesta malam itu sungguhlah meriah, wajar, Intan adalah anak orang kaya, ayahnya punya banyak perusahaan yang tersebar di mana-mana.

“Setelah tiup lilin, sekarang potong kuenya, sayang. beri potongan pertamanya pada orang yang paling Intan sayangi.” kata Ibunya yang sejak acara itu dimulai sudah duduk di sampingnya.

“Baiklah, Bunda.” Intan menuruti perkataan ibunya dengan senyum manis khas miliknya. sebelum memotong, Intan melihat ke arah ibu, ayah dan kakeknya, kemudian ke teman-temannya. gadis itu berhenti sejenak sebelum benar-benar memotong kuenya. Seperti ada sesuatu yang sedang ia tunggu.

“Assalamualaikum.” tiba-tiba seorang gadis kecil masuk ke ruangan pesta itu, dialah Sutirah, sahabat dekat Intan di sekolah. Ia menggenggam sebuah kado yang ia bungkus mirip seperti sebuah permen di tangannya, dua buah buku tulis, itulah isinya.

ketika melihatnya, Intan tersenyum bahagia, seperti menemukan sesuatu yang tadi ia cari. dan iapun melanjutkan memotong kue ulang tahunnya.

“Baiklah, siapa ya yang akan mendapat potongan kue pertama dariku ini..” kata Intan menggoda, lagi-lagi ia menatap pelan-pelan ibu, ayah, kakek dan teman-temannya.

“Maafkan intan bila hal ini tidak berkenan di hati, tapi Intan ingin memberikan kue pertama ini pada sahabat baik Intan, Sutirah.”

Ibu, Ayah dan Kakek Intan cemburu, tapi mereka juga bahagia karena ternyata Intan punya seorang sahabat baik. “Berikan tepuk tangan yang meriah.” kata mereka serentak memberikan semangat.

Sutirah kaget, ia yang datang paling terlambat malah diberi kue pertama oleh Intan, sungguh ia bahagia. sambil menukarkan kadonya dengan kue Intan, mereka saling berpelukan dan saling berciuman pipi.

Sutirah adalah sahabat baik Intan, ialah orang yang harus bertanggung jawab atas kenapa di sekolahan Intan selalu mendapat ranking dua, Sutirah benar-benar adalah tembok yang sulit dilalui oleh Intan, juara bertahan tak tertandingi. Walau begitu Intan tak pernah menganggapnya sebagai saingan ataupun musuh, berteman dengan Sutirah, Intan begitu bahagia karena Sutirah adalah anak yang baik dan tidak pelit dalam berbagi ilmu. Meskipun ia hanya gadis yatim anak seorang penjual gorengan.

“Mungkin ini acara ulang tahunku yang terakhir di kota ini, karena setelah lulus nanti aku bersama ayah dan ibu akan pindah rumah ke Jakarta, kau jaga diri baik-baik ya, Rah. Jangan lupa, kau harus tetap menjadi juara! Raihlah penghargaan-penghargaan yang banyak.” Kata Intan kepada sutirah.

“Siyaaaap, komandan!” seperti biasa, sutirah selalu menanggapi apa kata Intan dengan riang dan bercanda.

***

“Anak-anak, sekarang ibu akan menjelaskan pasal-pasal yang menyangkut kesejahteraan bangsa dalam isi undang-undang dasar 45, sebelum ibu menjelaskannya, ibu akan mendikte kalian, jadi siapkan kertas dan pulpen sekarang juga, kalian harus mencatatnya.” demikianlah perintah guru dalam kelas yang saat itu tengah mengajar pelajaran Pancasila, di samping kelas, pada sebuah sisa ruang antara kelas dan tembok yang membatasi halaman sekolah dengan rumah penduduk, seorang gadis kecil mencuri ilmu diam-diam, ia selalu jongkok di tempat itu setiap hari untuk mendengarkan dengan teliti apa yang diajarkan guru di dalam kelas. Pelajaran Pancasila, itulah yang paling ia sukai, di mana ada kelas Pancasila, di samping ruang kelas itulah ia akan jongkok sambil memegang pensil dan sebuah buku tulis kumal–Mencatat apa saja yang ia dengar.

Gadis itu tak masuk kelas bukan lantaran ia terkena skors, tapi memang dia tak pernah mendaftar sebagai seorang murid di sekolahan itu, dialah Sutirah, ia hanya tinggal bersama ibunya yang hanya seorang penjual gorengan. Sutirah menamatkan sekolahnya hanya sampai pada bangku SD saja. Maklum, karena ibunya tak lagi kuat membiayainya.

Pasal 23 ayat 1, Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sutirah mencatatnya.

Pasal 27 ayat 2, Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sutirah mencatatnya.

Pasal 31, ayat 1, Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Sutirah mencatatnya lagi

Pasal 34, ayat 1, Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh nega…

Belum sempat merampungkan catatannya, seorang lelaki tambun berkumis memergokinya, dia adalah kepala sekolah yang bengis, di sekolahan itu ia terkenal suka memukul tangan muridnya dengan penjalin ketika tidak mengerjakan PR, juga suka mencabut jambang muridnya apabila terlambat. Sutirah begitu ketakutan menatap wajahnya..

“hey! Apa yang kamu lakukan di sini, Anak nakal!? Kamu bolos sekolah ya?! Mana rumahmu?!!” lelaki itu membentak Sutirah sambil menjewer telinganya. Sutirah hanya diam, ia kemudian mencoba meloloskan diri dan lari dengan gesit melewati lubang pada tembok tempat ia biasa masuk, lubang itu juga merupakan jalan pintas yang kerap dimanfaatkan murid-murid nakal ketika membolos dari pelajaran. Sutirah lari, sandal jepitnya yang lain warna lepas satu, tapi ia tidak mempedulikannya karena saking takutnya, ia benar-benar terlihat seperti baru saja bertemu dengan makhluk dari neraka. Betapa sial dia.

Sampai di rumah Sutirah menangis, ia hanya sendirian karena ibunya belum pulang dari menjual gorengan di stasiun. Tak ada harapan lagi, pikirnya. Telah berulangkali ia meminta pada ibunya agar bisa menyekolahkannya, tapi ibunya tak pernah menjawab ‘iya’. jelas saja, uang laba hasil penjualan gorengan hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari, itupun hanya dengan lauk secukupnya. Kasihan Sutirah, sejak hari itu ia tak pernah kembali lagi ke samping kelas untuk mencuri ilmu. Ia takut, benar-benar takut. Dan ia kini hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan merenung.

***

“Juara satu lomba cerdas cermat, juara satu lomba bahasa inggris tingkat SMP sekabupaten, juara…, ah, Intan jadi ingin tahu juga prestasi-prestasi apa yang telah diraih oleh sahabat Intan yang dulu selalu mendapat rangking satu di kelas, bunda. Bolehkah Intan ke semarang untuk menengoknya? Sudah dua tahun, rasanya benar-benar rindu…” Kata Intan kepada ibunya sambil berkeliling kamar membaca piagam-piagam penghargaan miliknya yang banyak terdapat di sana.

Ibunya tersenyum sambil tetap membenarkan sprei tempat tidur Intan, “besok ‘kan tanggal 17 agustus, kau libur ‘kan? bunda akan meminta ijin ke sekolah dua hari tambahan untuk liburmu agar kau bisa pergi ke semarang, kakekmu juga rindu. Baiklah, nanti malam akan bunda belikan Intan tiket kereta.” kata ibunya.

“Asyik, terimakasih, bunda.” Intan meloncat girang, gadis yang sekarang sudah duduk di bangku kelas tiga SMP itu langsung menyiapkan ransel dan memasukkan apa saja yang ia butuhkan untuk perjalanan tiga hari di semarang.

Ibunya percaya saja, Intan mandiri, ia sudah belajar taekwondo sejak kelas 3 SD, jadi tak perlu khawatir jika Intan melakukan perjalanan dari Jakarta-Semarang seorang diri dengan kereta api.

***

Semarang pagi itu mendung, Intan memilih jalan kaki dari stasiun tawang ke rumah kakeknya untuk menuntaskan rasa rindunya pada setiap sudut kota tempat ia pernah dilahirkan itu. Sampai di sebuah tikungan di mana dia dulu biasa melewatinya ketika berangkat sekolah bersama teman-temannya, Intan tersenyum. “Ah, rindunya..” katanya sembari menghela nafas panjang.

Gerimis tiba-tiba datang, membuat Intan terpaksa harus berteduh di sebuah warung yang sudah tidak dimanfaatkan untuk berjualan lagi oleh pemiliknya. Pada jarak beberapa meter darinya di tempat ia berteduh itu, seorang gadis dekil tersenyum-senyum dengan tatapan mata yang kosong menatap sudut jalan. Intan memperhatikan gadis itu dengan seksama, betapa kaget dirinya ketika tahu bahwa gadis itu ternyata adalah sahabatnya, Sutirah! Intan langsung memeluknya tak peduli seperti apa kondisi Sutirah, namun Sutirah malah mendorongnya dan berbicara pada Intan dengan bahasa yang tak pernah terdengar pada bahasa manusia atau binatang manapun Intan menangis dan terus mencoba membuat sutirah mengenalnya, tapi sutirah tetap mendorongnya dan mendorongnya. Terus seperti itu.

“Rah, ini aku! Ini aku sahabatmu, Rah! Rah! Ini aku, Intan!”

Gerimis reda, Intan masih saja duduk di depan sahabatnya itu dan memandanginya lama-lama, namun sutirah hanya tersenyum-senyum dengan tatapan mata yang kosong. Oh betapa malang gadis itu, ia dulu adalah anak yang sungguh cerdas, semangat belajarnya yang begitu tinggi dan ketidakmampuan ekonomi orangtuanya untuk menyekolahkannya malah membuat ia depresi. Betapa ironis, ia adalah bibit cemerlang yang tidak diijinkan tumbuh menjadi bunga yang wangi untuk bangsanya sendiri, gadis miskin yang menjadi korban dari pendidikan yang marak diperjualbelikan di negrinya.

Burung-burung gereja turun ke jalan-jalan untuk mematuki buah-buah merah kecil yang jatuh berguguran dari pohon beringin yang tumbuh di samping warung kosong tempat Intan dan Sutirah berteduh. Dan di seberang jalan itu seorang lelaki tua diam-diam memperhatikan mereka dengan haru dari atas becak miliknya. Di radio yang ia kalungkan pada lehernya siang itu, sayup-sayup terdengar sebuah lagu berjudul ‘Padamu Negri’ yang diputar oleh RRI.

-End of Note-

; SELAMAT MEMPERINGATI HARI KESAKTIAN PANCASILA

Bekasi, 01-03 Oktober 2010