Space Iklan

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2013

Semesta di Tubuhmu


Di tubuhmu kutemukan tubir laut
Tempat perahu kayu tertambat tenang
Tempat anak-anak udang berenang riang

Di tubuhmu kutemukan bibir fajar
Tempat capung merah hinggap sunyi di kembang sawi
Tempat kabut-kabut mencair bundar di duri nangka

Di tubuhmu kutemukan bulan desember
Tempat hujan putih jatuh dengan dingin
Tempat lili darah bermekaran cerah

; Di tubuhmu kutemukan semesta
Tempat segala kemungkinan yang meneduhkan
Berdiam diri dengan rapi



Gedung Berlian, April 2013

Rabu, 13 Juni 2012

Puisi : Tarian di Bukit Cinta

TARIAN DI BUKIT CINTA 1

Untuk sementara
Aku menyebutmu Efa
Meski aku tahu
Itu bukan namamu

Bukan apa-apa Adik
Di luar amat banyak cincong dan hardik
Hingga angin seperti tak bertuan
Dan hatiku jadi kecut blingsatan

Kelak setelah cuaca reda
Kusebut namamu terus terang
Dan sehabis mengunyah senja
Kita bertekad menziarahi bintang

Sungai Gajahwong, 2003



TARIAN DI BUKIT CINTA 2

Dari dua jendela yang berjauhan
Akhirnya mata kita bertemu jua
Kutahu jiwamu masih rawan
Karena itu kau jadi terkesima

Di antara denyar hidup yang semrawut
Kusimak kau sebagai ikhwal yang azali
Dan di antara barisan anai-anai dan semut
Biarlah kukhalwatkan namamu beribu kali

Sungai Gajahwong, 2003



TARIAN DI BUKIT CINTA 3

Di pantai mana kita akan menepi Sayang
Setelah hari-hari dipukul gebalau lindu?
Kuharap kau tak akan gamang
Meski mataangin menjulurkan sembilu

Sering malam hari aku terbangun
Oleh bayanganmu yang datang mendadak
Lalu kutempuh sisa malam dengan terngungun
Dan sukmaku serasa meledak-ledak

Sungai Gajahwong, 2003



TARIAN DI BUKIT CINTA 4

Telah kubaca beribu kisah
Tentang cinta dan kesetiaan
Karena itu laut yakinku berbuncah
Saat menyaksikanmu mengulur tangan

Banyak sebenarnya Adik
Jalan-jalan minta kutempuh
Tapi gambarmu begitu kuat Adik
Hingga yang lain jadi luruh

Kekuatan apa bersemayam di hatimu?
Sekali ia menyentuhku
Membuatku gemetaran
Melintasi zaman demi zaman

Sungai Gajahwong, 2003



TARIAN DI BUKIT CINTA 5

 
Maka bagi kita tidak berlaku
Bentang jarak yang begitu jauh
Malah ia membaptisku jadi batu
Dalam menumpahkan segala tawajuh

O senja apa ini gerangan
Mendorongku menari-nari girang?
O cinta apa ini gerangan
Hingga aku digoncang kepayang?

Telah beribu mil lorong kutempuh
Untuk membaca warna, bayang-bayang dan seluruh
Tapi baru kali ini aku betul-betul kesandung
Oleh jiwamu yang wangi kecubung

Sungai Gajahwong, 2003.




Tentang Penyair :

Kuswaidi Syafi'ie lahir di Sumenep pada penghujung tahun 1971. Semenjak tahun 1992 ia tinggal di Yogyakarta. Ia menulis cerpen, esai dan puisi. Bukunya yang telah terbit antara lain; Menapak Lorong Aulia (Ittaqa Press: Yogyakarta, 1994), Tarian Mabuk Allah (Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 1999), Memanjat Bukit Cahaya (Fajar Pustaka: Yogyakarta, 2000), Pohon Sidrah (Fajar Pustaka Baru: Yogyakarta, 2002)

Jumat, 08 Juni 2012

Puisi : Peminum Kopi




Untuk setiap puisi

Aku perlukan secangkir kopi, katanya

Campurkan gula secukupnya:

Puisi juga butuh semacam pemanis

Barangkali sebaiknya pada penghujung baris?

Menuangkan rasa:

Tuanglah selagi panas masih

Nanti meruap sangit aroma langit

Mengaduknya pelan saja:

Cermat lagi hati-hati

Sebelum menyeruputnya sedap

Aku selalu percaya, katanya

Dari balik pekat ampas waktunya

Bakal terbaca isyarat

Tapi, untuk setiap pertanda itu

Aku perlukan sesayat luka

2008







Tentang Penyair :

Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April 1960. Ia bermukim dan bekerja di Jakarta. menyukai puisi, musik dan film, tapi sebagai penikmat awam saja. Pernah bekerja di perusahaan asuransi, dan sekarang di sebuah perusahaan tekstil di Jakarta, kota tempatnya bermukim bersama istri (Jasin Linda) dan dua anaknya (Frida Nathania, Daniel Kristanto). Tulisan-tulisannya bisa dibaca di : http://ooknugroho.blogspot.com/







Jumat, 02 Maret 2012

Puisi : Di Dalam Bis


            : Zidni Arfia Rahman


Selamat malam, Padalarang!
Lampu-lampu mengular, yang sepasang dan yang tunggal.
Kendaraan dari dan entah ke mana tujuannya.
Jalanan sedikit basah, baru turun hujan ‘kah?

Di dalam bis aku ngelangut melamun,
di smoking area, asap rokok diam serupa petapa waskita.
Kepulangan, adakah selalu jadi kerinduan dua titik yang berbeda?
Kita cuma manusia-manusia yang gemar merentang jarak.
Di kubus ruang kau pecahkan satu-satu detik yang mengganggu.

Ada kunyanyikan pelan lagu bagimu, Sepanjang Jalan Kenangan
dan tiba-tiba saja aku jadi teringat ibu. Di luar mulai gelap
meranggas petang. Pulas gigil AC sedikit menekan tulang iga,
hingga ke paru. Ditaruhnya lagi bertumpukan, ceritamu
tentang anak kecil yang minta dibuatkan langit di atap kamarnya.
Atau tentang kaleng kosong yang jadi kandang kunang-kunang.

Betapa menyenangkan masa kanak itu.
Selamat malam, kuucapkan bagi lampu-lampu.
Senang berkenalan denganmu,
walau dalam kecepatan bis yang tidak pernah tentu.
Kadang melesat ia, kadang melenguh di tengah macet
yang membikin jenuh.

Selamat malam, Padalarang!
Garis terakhir batasmu sudah lewat jauh.
Baiknya kuakhiri sajak ini dengan
sepotong tanda titik yang likat. Nah, sudah kutaruh.


Bandung – Sukabumi, 3/2/2012


 Tentang Penyair :

Lutfi Mardiansyah, lahir di Sukabumi tanggal 4 Juli 1991. Tengah menempuh program S1 di Universitas Padjadjaran (UNPAD) jurusan Sastra Indonesia, angkatan 2009. Menulis puisi, cerpen dan novel. Pendengar setia John Coltrane dan Miles Davis. Pembaca setia novel-novel Milan Kundera dan Ayu Utami, juga babon epik Mahabharata Ramayana. Aktif di Komunitas Sastra Langkah. Menjadi pembimbing di Forsa5 (Forum Sastra Remaja SMPN 5) di Kota Sukabumi. Puisi-puisinya terdapat antara lain di antologi puisi kolektif Langkah, Dari Dasar Jurang (2011), dan Dari Senja Ke Malam (2011). Saat ini sedang berusaha mewujudkan impiannya memiliki perpustakaan.

Kamis, 02 Februari 2012

Yang Sebenarnya Ingin Kutulis Diam-Diam

pada akhirnya aku pulang lagi pada sepi. pada kenangan-kenangan yang menyisakan hanya aroma peluhmu yang kering. ah, berapa kali lagi, manis. berapa kali lagi harus kukaji sandi pada sidik jarimu yang melindap sekujur tubuhku.


Kediaman Hujan, Jan '12

Rabu, 30 Maret 2011

Puisi : Biarkan Hujan Turun


biar saja hujan turun sederas maunya
tak perlu kau dan aku terka pukul berapa ia akan berhenti
bukan karena aku tak ingin pulang, 'I
aku cuma masih ingin sebentar lagi di sini

bersamamu
lebih lama dari yang lalu

untuk diam diam membaca
sepotong senyap
yang mukim di mata indahmu itu

Semarang, Maret '11

Jumat, 18 Februari 2011

Puisi : Aku Suka Kamu

aku suka kamu, suka penampilanmu
karena kau tak menor kayak SPG parfum di mall-mall

walaupun kau makan siomay dan minum es cendol
sambil sendalan jepit di pinggir kali yang butek
di mataku Julia Perez masih tetep
kalah seksi dari gayamu

dan, sayang. apa kau tahu?
rambutmu yang selalu kau kuncir ekor kuda itu
setiap waktu membuatku ingin selalu membelainya

sebab itu sekali waktu aku ingin mengajakmu pergi
memboncengkanmu di belakang sepeda jengki
sambil ngemut lollipop atau gulali

akan kubawa kau ke pasar malam,
buat naik odong-odong
dan komidi putar sampai pagi
lalu pulang sambil bertralalatrilili

karena aku suka kamu
karena aku suka kamu


Sarang Angin, 15.01.2011

Puisi : Ke Kotamu

dari dulu aku selalu sibuk mengali ngalikan angka
menghitung berapa panjang jarak antara kotaku ke kotamu

benarkah cukup gaji empat bulanku
kubuat untuk membeli pohon pohon bouganville jingga
yang bisa kutanam di sepanjang jalan itu?

agar ketika aku atau kau saling berkunjung ke kota kita
kau dan aku nggak perlu lagi naik elf atau bis kota

sebab katamu, (dan aku juga pernah berkata)
memandang rekah bunga bougenville membuat kita selalu ingin jalan kaki

benarkah cukup gaji empat bulanku
kubuat untuk membeli pohon pohon bouganville jingga
yang bisa kutanam di sepanjang jalan itu?

agar nanti kita bisa jalan jalan berdua
berorasi tentang cinta yang anti polusi
sambil tak lupa kusemprotkan parfum alexander hitam ke tubuhku
karena kau pernah bilang
bahwa kau jadi bisa semakin deg degan
ketika aku memakainya saat jalan denganmu


Sarang Angin, Oktober 2010

Kamis, 02 September 2010

Puisi : Di sepanjang fajar hingga bibir-bibir pagi















sekali aku pernah menyimakmu seperti ini, dalam kabut yang lindap di sepanjang fajar hingga bibir bibir pagi.



sungguh tak berubah, kau masih begitu tekun melafalkan doa yang cemas, begitu anggun menanam mimpi pada bara unggun. seperti terakhir kali kita berdiri pada satu jajar di antara rimbun perdu yang ditumbuhkan Tuhan di bukit ini.



ah, kawan

kau dan aku tetap sama saja

gemar menjadi manusia yang menyebabkan detik membuahkan sepi



di sepanjang fajar

hingga bibir bibir pagi.





Agustus, 2010

Rabu, 01 September 2010

Puisi : Perempuan Langit

: padamu, bidadari yang menyapu sampah di depan rumah kayu



(duhai

aku jatuh cinta pada perempuan langit ini

pemilik kerling mata

yang lebih teduh

daripada musim angin di bulan april

dan liku senyum

yang lebih kerlip

daripada gugus gemintang di langit selatan)



wahai

engkau yang kerap bertutur

dengan kata yang lebih wangi tinimbang kembang

dan gerak bibir yang lebih suci tinimbang pagi



ijinkan kutelaah kegaibanmu

dari lancip lutut

hingga keluasan keningmu



o



berhentilah sekejap saja

biarkan aku purna menyimakmu



berhentilah sekejap saja,

biarkan aku purna menyimakmu





Sarang Angin, 01 September 2010

Rabu, 09 Juni 2010

Puisi : Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

-Sapardi Djoko Damono-