Space Iklan

Tampilkan postingan dengan label Dunia Tanpa Nama [Draft]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Tanpa Nama [Draft]. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Dunia Tanpa Nama [chapter #6]

        “Apa menurutmu ramalan itu benar?” Tanya Lena.
        “Entahlah,” Greem mengangkat bahunya, “Kita lihat saja nanti.”
        “Mmm, ini jadi seperti dongeng saja.”
        “Memangnya kau tidak sadar saat ini sedang berada di mana?”
      ”Sadar, sih. Hanya saja aku masih sulit mempercayai bahwa empat puluh tahun terakhir yang kulewati ini adalah benar-benar kenyataan.”
    “Apa perlu aku menampar wajahmu, untuk membuktikan bahwa kau tidak sedang bermimpi?”
        “Akan kupenggal kepalamu jika kau berani melakukannya.”
        “Kau ini masih saja berani berkata kurang ajar seperti itu pada gurumu.”
   “Kenapa tidak? Siapa memangnya yang menarik-narikku ke dunia ini?” Lena mencengkeram kerah baju Greem. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Greem, “Kau pikir aku mau belajar sihir benar-benar bukan karena terpaksa?”
        “Apa kau mau menentang takdir?” kata Greem tenang.
        “Apa itu takdir? Hanya orang-orang bodoh saja yang masih mau mempercayainya.”
      “Aku sangsi bahwa orang sepertimu ini pernah menginjak bangku sekolah di dunia manusia sana.” Greem melepaskan cengkeraman tangan Lena di kerah bajunya dengan sedikit sihir, “Daripada berdebat seperti ini, kau lebih baik belajar sihir sebelum sesuatu yang telah diramalkan terjadi. Berdoa saja semoga Maria bisa sampai ke negri ini membawa bocah itu tepat pada waktunya.”
**
Kali ini giliran makhluk yang lebih aneh muncul. Ia memiliki enam tangan yang lebih panjang dari tinggi tubuhnya. Matanya empat dan hitam seluruhnya. Memiliki satu tanduk di atas kepala dan mulut yang berada tepat di tengah-tengah perutnya. Jaglove menciptakannya dari isi perut serangga dan serpihan-serpihan tubuh monster tanah liat yang hancur karena mantra yang diucapkan Obin.
“Aku berani berjanji.” Kata Jaglove, “Seandainya monster yang kuciptakan kali ini mampu kalian hancurkan dengan mantra sihir, maka aku akan pergi tanpa membawa kepalamu.”
“Kau berani berkata seperti itu seolah-olah kaulah yang menguasai pertempuran ini.” Kata Maria.
“Oh. Pertempuran?” Jaglove menempelkan jari telunjuknya ke kening. Seperti gaya seseorang yang sedang mengingat-ingat sesuatu. “Aku bahkan tidak pernah menganggapnya demikian. Ini permainan, Maria. Permainan kecil saja, kau tahu.”
“Kau tetap saja sombong.”
“Dan kau berubah menjadi lebih percaya diri sekarang, ya, Maria. Padahal lima puluh tahun yang lalu, sejak terakhir kali kita bertemu, kau masih terlihat seperti anak ingusan.” Wajah Jaglove berubah menyeringai, “Padahal seandainya ketika itu Gaga tidak datang menolongmu, aku sudah mendapatkan kepalamu. Kau tahu, Maria? Kepala penyihir yang murni berasal dari dunia manusia sepertimu itu padahal sangat mahal harganya.”
Maria diam sejenak.
“Padahal apa lagi?” katanya kemudian.
“Aku tidak pernah membayangkan akan bisa bertemu orang-orang yang hebat seperti kalian dalam hidupku. Ini keren.” Obin angkat bicara, “Tapi juga merepotkan.”
“Hampir saja aku melupakan keberadaanmu, anak muda. Padahal mantramulah yang telah menghancurkan makhluk-makhluk sihir ciptaanku. Meskipun Maria telah berusaha menutupi auramu dengan auranya, tapi aku tetap tahu kalau kau ini berasal dari ras mausia juga.” Jaglove berkacak pinggang. “Ini menarik. Aku akan membiarkan dulu kau hidup di dunia ini untuk belajar sihir, seperti kebanyakan manusia yang pernah datang ke mari. Kemudian aku akan datang kembali padamu untuk memenggal kepalamu ketika kau telah benar-benar bisa menguasai sihir. Kau tahu kenapa, nak? Seperti yang sudah kubilang tadi, kepala penyihir yang berasal dari ras manusia itu mahal sekali harganya.”
“Oh. Begitu?” kata Obin.
“Menarik. Benar-benar menarik. Jarang-jarang aku bertemu manusia yang santai dan pemberani sepertimu.” Jaglove menatap wajah Maria, “Benar, ‘kan, Maria?”
“Menghadap kemari, Badut!” Obin berteriak, “Aku juga akan memberitahumu sesuatu!”
“Memberitahu apa?” Jaglove menanggapi.
“Kau itu makhluk paling lucu yang pernah kutemui.”
Mendengar itu, Jaglove langsung meniupkan ‘nyawa’ pada makhluk ciptaannya. “Baiklah, sebaiknya segera kita mulai saja permainan ini.” Katanya.
**
DBUM!
Sebuah batu besar jatuh dari tempat seharusnya ia berada. Makhluk-makhluk kecil di sekitarnya berlarian ketakutan.
“Ini luar biasa,” lelaki bertopeng itu menggaruk-garuk kepalanya, “Aku tidak tahu harus berkata apa.”
Dhino menatap tangan kanannya yang masih menyisakan sedikit asap dari sihir yang baru saja dikeluarkannya untuk memindahkan sebuah batu dari atas tebing.
Amazing..,” katanya, “Ini keren sekali.”
“Kupikir kau merasa dirimu yang sekarang ini sudah hampir mirip dengan tokoh super hero favoritmu ketika kecil. Benar begitu, bocah?”, lelaki bertopeng itu menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya untuk mengelus-elus dagunya sendiri, “Kuakui, kau memang luar biasa.”
Yeah, kuharap aku bisa tetap seperti ini ketika aku sudah bangun dari mimpi nanti.”
“Harus kubilang berapakali lagi padamu bahwa yang sedang kau alami ini bukan mimpi, bocah.”
“Ah, sudahlah. Aku tetap tak mau mempercayainya.” Dhino bersidekap, “Sekarang sihir apa lagi yang bisa kau ajarkan padaku? Aku ingin belajar lebih banyak lagi. Mumpung ibuku yang galak belum membangunkanku dengan seember air.”
“Kata-katamu…, itu yang ingin kudengarkan. Kuharap anak yang dibawa Maria nanti tidak lebih hebat darimu.”
Lelaki bertopeng itu kini kembali mengobok-obok isi tasnya.
**
Jaglove hanya tertawa-tawa di atas batu ketika melihat makhluk aneh ciptaannya membuat kewalahan Maria dan Obin.
Rasanya Obin tidak bisa mempercayainya, Maria yang dari sejak pertama kali mereka bertemu terlihat hebat itu kini bisa dibuat tak berkutik oleh hanya makhluk yang diciptakan dengan sihir. Ia kini jadi merasa menyesal dan membenarkan kata Maria bahwa keberadaannya di sana hanya menjadi beban bagi Maria.
“Tak perlu menyesal. Sudah terlambat.” Kata Maria.
“Lagi-lagi kau membaca pikiranku.”
DUAG!
DUAG!
Gerakan makhluk sihir itu benar-benar tidak terbaca. Ia gesit serupa kilat. Obin dan Maria kini terpental jauh karena pukulannya yang tiba-tiba. Kepala boneka yang selalu dibawa Maria juga sekarang jadi terlepas dari tangan gadis kecil berambut putih itu.
“Memalukan,” kata Maria. “Ini terlalu cepat.”
Langit di atas kepala boneka yang terlepas dari tangan Maria itu jadi tiba-tiba terbelah. Sebuah cahaya berwarna kuning memancar tegak lurus menembus langit yang terbelah itu dari kepala boneka.
“Cahaya apa gerangan yang keluar dari kepala boneka itu?” kata Obin penasaran, sebelum ia tak sadarkan diri karena efek dari pukulan makhluk sihir bertangan enam barusan.
“Oh?” Jaglove kini beranjak dari tempat  ia berada.

(Bersambung)

Jumat, 15 Juni 2012

Dunia Tanpa Nama [chapter #5]




“Aku bahkan benar-benar ragu kalau kau ini sebenarnya adalah manusia sepertiku,“ kata Obin sambil membenamkan seluruh badannya hingga leher di air terjun Maholu, “Mana ada manusia yang bisa melompat tinggi, mematahkan sayap siluman, dan membuat jalanan retak tanpa melakukan apa-apa? Dan yang lebih membuatku heran, adalah kau tidak bisa mati meskipun jantungmu tertusuk anak panah. Cepat sembuh lagi lukanya.”
“Kau tahu, Obin?” tanya Maria, sembari memakan sedikit demi sedikit ikan yang ia tangkap dan bakar dengan sihirnya dari air terjun itu. “Suatu saat kau juga akan menjadi seperti diriku.”
“Itu mustahil.”
“Kata-katamu itu mirip dengan kata-kataku tiga ratus tahun yang lalu. Ketika Gaga membawaku kemari.”
“Siapa lagi Gaga itu?”
“Dia guruku. Orang yang selalu menunggu datangnya hari ini.”
“Hari ini?”
“Obrolan yang sepertinya menarik,” Kata seseorang yang berpenampilan seperti badut yang sudah tiba-tiba jongkok di atas batu di sebrang, hidungnya bulat berwarna merah, rambutnya keriting, ia memakai topi seperti topi angkatan laut Inggris. Dan terlihat sedang membuat makhluk-makhluk aneh dari tanah liat dengan kedua tangannya. “Bolehkah aku ikut?”
Suara gaduh air terjun membuat Obin tidak bisa dengan jelas mendengar kata-kata orang itu. Tapi ia jelas melihat raut wajah Maria yang ketakutan. Bukan lagi dingin atau semacamnya, wajah Maria benar-benar menggambarkan ketakutan. Ketakutan. Apa yang terjadi sebenarnya?

***

“Baiklah, sebelum kita sampai ke tujuan kita, alangkah lebih baiknya aku mengajarimu sedikit sihir dulu dari sini,” kata lelaki bertopeng itu.
“Apa menurutmu aku berbakat belajar sihir?”
“Apalah yang disebut bakat itu. Kemampuan yang dibawa dari sejak lahir?” lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya, “Bakat tidak bisa menentukan apakah orang yang memilikinya akan menjadi orang hebat atau tidak suatu hari kelak. Kau bisa menjadi hebat atau tidak hanya jika kau mau berusaha atau tidak mau berusaha.”
“Hm, boleh juga kata-katamu.”
“oke, sekarang kau pegang ini di tangan kananmu,” lelaki bertopeng itu memberikan sebuah apel ungu kepada Dhino.
“Apa yang harus aku lakukan dengan apel aneh ini?” Dhino meraihnya.
“Kau ikuti saja perintahku.”
Lelaki bertopeng itu menyentuh pelan kening Dhino, seolah membuka kunci atau entah agar kekuatan anak itu bisa keluar. “Sekarang kau konsentrasi pada apel itu.”
“Baik.”
“Ucapkan ‘Zakka’ setelah nama buah itu.”
“Apa namanya? Apel kah?”
“Di dunia ini orang menyebutnya Ko.”
“Jadi, aku harus mengucapkan ‘Ko Zakka’?”
KRAK!
Buah di tangan Dhino tiba-tiba menjadi retak setelah ia mengucapkan mantra itu. Lelaki bertopeng di depannya terkejut bukan main. “Mustahil, padahal kau sedang tidak serius.”
“Maksudmu tidak serius?”
“Ya, kau mengucapkan mantra itu dalam rangka bertanya kepadaku, dan tidak mengonsentrasikannya pada buah  Ko itu.”
“Memangnya, apa yang terjadi seharusnya?”
“Entahlah. Yang jelas aku menyebut hal ini sebagai keajaiban.”
“Aku tidak paham.”
“Guruku mengatakan padaku, bahwa orang sepertiku haya ada satu di antara seratus orang, ketika pertama kali aku berguru padanya dulu.”
“Hubungannya?”
“Tidak ada,” Ia menggaruk kembali kepalanya, “Aku hanya ingin bilang, orang sepertimu itu hanya ada satu di antara satu juta orang.”

***

“Beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu di sini Maria,” Badut itu menjajarkan makhluk-makhluk tanah liat di depannya dengan rapi, “Kabarnya, kau baru saja membuat keributan di Pasar Areo, ya? Manusia itu memang gemar membuat masalah, ya.”
“Apa yang kau lakukan di sini, Jaglove?” Kata Maria, ia bangkit dari duduknya. Dan seperti biasanya ketika ia menghadapi ancaman, aura berwarna biru kini kembali menyelimuti dirinya. Obin hanya bisa bengong menyimak percakapan mereka.
“Obin, kau naiklah. Pakai bajumu. Pergi sejauh mungkin dari sini dan sembunyilah ke tempat yang menurutmu aman.” Maria bicara kepada Obin, “Aku tidak yakin bisa melindungimu dari pria ini.” Ia menengok ke badut keriting di sebrang sana.
“Ow, ow, ow. Maria. Kau lupa siapa aku, ya?” Badut itu mengeluarkan cahaya berwarna jingga dari tangannya. “Baiklah, akan kubiarkan kelincimu lari. Tapi sebagai gantinya, boleh ‘kan aku bermain-main denganmu?”
Mereka saling bertatap mata dengan dingin. Tapi ketakutan di wajah Maria jelas tidak bisa disembunyikan.
“Sepertinya lelaki itu berbahaya, “ Kata Obin setelah memakai pakaiannya, “Aku tidak mau jadi pengecut, Maria. Aku mau membantumu.”
“Kau jangan bodoh, Nak. Nyawamu itu terlalu berharga.”
“Tidak ada nyawa pengecut yang berharga.”
“Aku menyesal belum menceritakan semua apa yang sebenarnya kau alami ini padamu.”
“Sudahlah, kau boleh menceritakannya nanti. Sekarang kau bilang saja apa yang harus kulakukan terhadap pria ini. Jag jag siapa tadi namanya?”
“Jaglove. Dia penyihir yang cukup ditakuti di dunia ini. Dia adalah pemburu kepala. Aku saja ragu bisa mengalahkannya. Oleh sebab itulah aku menganggap keberadaanmu di sini hanya akan membawa masalah bagiku.”
“Tidak ada orang yang pernah meremehkanku seperti itu,” kata Obin, “Selamat, Maria. Kau orang yang pertama.”
ZAP!
Maria melempar tembakan berupa cahaya biru dari jari telunjuknya ke Obin. Tapi cahaya itu hanya menyerempet rambut manusia itu. “Harus kubilang berapa kali lagi agar kau bisa pergi dari sini? Apa perlu aku membuat salah satu bagian dari tubuhmu cacat dulu baru kau mau menuruti kata-kataku?!”
“Aku sungguh malu menyebut diriku sebagai seorang laki-laki jika aku menarik kembali kata-kataku. Sudahlah, Maria. Ini akan lebih baik jika kita mati bersama.” Obin menatap wajah badut berhidung merah yang kini sudah siap melakukan sesuatu dengan patung-patung tanah liat di depannya, “Itu juga jika orang itu bisa membunuh kita.”
“Kau memang keras kepala. Tukang bengong sepertimu, entah sejak kapan jadi pemberani begini?” Maria sedikit merasa kecewa, tapi juga bahagia mendengar pernyataan Obin. “Merepotkan.”

***

“Setiap benda atau makhluk di dunia ini punya nama, semakin sering orang menyebut nama mereka, maka akan semakin berpengaruh pula sihirmu pada mereka. Tentu saja jika kau tahu namanya, apalagi jika kau juga tahu wajah atau bentuknya.”
“Aku benar-benar tidak bisa memahami perkataanmu.”
“Sebenarnya pada dasarnya, semua benda atau makhluk di dunia ini tidak ada yang memiliki nama. Kau tahu bagaimana seekor induk binatang memanggil anak-anak atau kawanannya?” Lelaki bertopeng itu menggerakkan jari tengah dan telunjuknya ke atas dan ke bawah, “Mereka hanya menggunakan bahasa isyarat. Jadi…”
“Jadi, apa hubungannya nama berpengaruh pada intensitas sihir, dengan benda dan makhluk yang tidak bernama, dan binatang-binatang yang saling memanggil dengan bahasa isyarat?”
Lelaki bertopeng itu menerawang ke langit, “Apa bahasaku terlalu sulit dipahami, ya?” katanya. “Sebab kau memberikan pertanyaan dengan bahasa yang lebih sulit dari penjelasanku yang kau bilang sulit.”
“AAAAAAAAAAAAAAh?!” Dhino menggaruk-garuk kepalanya, “Kurasa kebiasaanmu menggaruk-garuk kepala itu disebabkan oleh kebiasaanmu mempersulit bahasa itu!”
Lelaki bertopeng itu tertawa, “Ha ha ha, baiklah, akan kusederhanakan lagi bahasaku.” Katanya,


***

PLOK!
PLOK!
PLOK!
“Yuuuhuuu, harap menghadap kemari saudara-saudara.” Kata Jaglove sambil bertepuk tangan, “Pertunjukan akan segera dimulai.” Di hadapannya sudah berdiri empat makhluk sihir berbentuk aneh. Kini mereka semua hidup.
“Pertama akan kuberitahu kamu, orang-orang biasa memanggil makhluk sihir ciptaan Jaglove—apapun wujudnya—dengan Mangrove.” kata Maria.
“Seperti nama tanaman rawa saja.”
“Seharusnya kau bertanya untuk apa aku memberitahumu nama mereka.”
“Kenapa harus?”
“Sihirmu akan sangat berpengaruh pada mereka jika kau mengetahui namanya.”
                “Jadi, kau sedang mengajariku sihir?”
                “Sederhananya begitu,” kata Maria sambil memasang kuda-kuda untuk menghadapi makhluk-makhluk sihir di depan mereka, “Ucapkan mantra, karang saja dari hatimu, kau tinggal membayangkan mau kau apakan mereka. Dan jangan lupa sertakan nama mereka sebelum mantra itu.”
                “Baiklah, kalau begitu,” Obin memejamkan matanya, “MANGROVE BANGBANGTUT!” ia berteriak.
                “Apa-apaan bunyi mantra itu?”
                “Itu mantra penghancuran. Aku membayangkan makhluk-makhluk itu akan hancur setelah aku ucapkan mantranya.”
                Dan..
                DUAR!
                DUAR!
DUAR!
DUAR!
Makhluk-makhluk aneh ciptaan Jaglove di seberang mereka tiba-tiba meledak dan hancur berkeping-keping. Maria memandang makhluk-makhluk itu dengan pandangan tidak percaya. Jaglove apalagi.

 
(Bersambung)
                                                               

Selasa, 12 Juni 2012

Dunia Tanpa Nama [chapter #4]


Add caption
Ia merasakan rindu yang sangat dalam pada kampung halamannya. Rindu akan ciap anak-anak ayam yang berebut entah dengan burung-burung gereja di halaman depan rumahnya. Juga rindu dimarahi oleh ibunya ketika ia harus pulang malam.
“Empat puluh tahun,” katanya pelan. “Itu bukan waktu yang sebentar.”
            Seekor Zev lewat begitu saja di sampingnya. Makhluk mirip kelinci yang berbulu biru itu sedang beruntung, sebab biasanya Lena langsung menangkap dan memakan binatang itu jika ia melihatnya.
            “KAVAKAVAZAM!”
            Tapi ternyata tidak demikian. Zev yang melompat-lompat riang itu pun dengan segera berubah menjadi Zev panggang setelah terkena cahaya yang muncul dari sebuah tongkat seiring mantra sihir yang terdengar keras tadi. Bukan Lena yang melakukannya. Itu ulah Greem, penyihir kerdil yang memakai topeng kaca untuk menutupi wajahnya.
            “Apa yang sebenarnya sedang menimpamu?” Greem mengambil Zev itu dengan sihirnya, sehingga dengan segera makhluk malang yang kini sudah mati terpanggang itu terbang dengan sendirinya ke tangannya. “Tidak biasanya kau melewatkan makanan selezat daging Zev ini.”
            “Bukan urusanmu.”
            “Kau ini tetap tidak berubah, ya.” Greem memakan dengan lahap Zev di tangannya, “Aku dari pagi mencarimu, kau malah bermalas-malasan di sini rupanya.”
            “Buat apa mencariku? Aku toh sudah tidak berminat lagi belajar sihir.”
            “Kenapa? Kau sudah putus asa?”
            Lena hanya diam.
“Setelah empat puluh tahun yang telah lewat ini, kau mau menyerah begitu saja? Apa kau berniat untuk mati di dunia ini dan tidak mau kembali lagi ke kampung halamanmu?”
Lena berjalan begitu saja. Ia sama sekali tidak mau menanggapi kata-kata Greem barusan.
“Hey gadis tomboy,”  teriak Greem. “Maria berhasil menangkap salah satunya.”
Kini gadis berambut pirang sebahu itu menghentikan langkahnya. Ia menengok ke arah Greem.
“Kau yakin?” tanyanya dengan penuh semangat. Cahaya kebahagiaan terpancar di kedua matanya yang bening.

***
Hampir tidak bisa dipercaya. Kedua kaki Maria sudah tiba-tiba berada di belakang punggung Manusia Burung. Tangannya mencengkeram kedua sayap makhluk itu. Tatapannya dingin, dan seluruh tubuhnya kini kembali memancarkan cahaya biru.
            “Siapa yang menyuruhmu?” Tanyanya pada makhluk itu sambil menggigit rambut dari kepala boneka yang selalu ia bawa-bawa.
            “Bukan siapa-siapa.” Manusia burung yang sebelumnya terlihat gagah itu kini seperti merasa terancam nyawanya.
            “Lantas, kenapa kau berani memanah jantungku?” Kedua tangan Maria semakin keras mencengkeram kedua sayap makhluk itu. “Aku tidak akan bisa mati hanya dengan sihir murahan seperti yang kau miliki, kau tahu?”
            “A, A, Aku hanya mau memisahkanmu dari manusia itu.” Mata makhluk itu menatap tajam Obin yang sedang berdiri terpaku di bawah sana. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa sakit karena cengkeraman tangan Maria di kedua sayapnya.
            “Atas dasar apa?”
            “Aku hanya ingin memakannya. Sudah lama aku ingin sekali memakan manusia.”
            Mendengar kata-kata itu, mata semua orang—yang sebenarnya merupakan jelmaan dari para siluman—yang berada di pasar itu menjadi tiba-tiba menyala merah. Mereka kini jadi tahu kalau sosok laki-laki yang sedang berdiri terpaku di hadapan mereka adalah manusia. Kendati aura Maria telah menutupi aura manusianya. Darah mereka jadi mendidih, nafsu untuk menyantap mentah-mentah Obin jadi memenuhi otak semua orang di keramaian itu.
            “Sial.” Maria merasa, seolah hal yang tidak diinginkannya akan terjadi.

***
“Jika tidak bisa memanjat pohon, maka yang perlu kau lakukan hanyalah terus berlari!” Lelaki bertopeng itu berteriak kepada Dhino yang kini dikejar-kejar makhluk seperti babi hutan, namun berkaki enam, dari atas pohon.
            “Kau jangan gila! Turunlah membantuku! Ini lebih repot dari yang kamu bayangkan.” Dhino membalas teriakan lelaki itu sambil terus berlari.
            “Ha ha ha, larilah secara zig-zag, makhluk tak berleher itu akan kesulitan mengejarmu! Ia susah berbelok kalau sedang lari kencang seperti itu.”
            “Kau kira itu mudah?!”
            Kaki kanan Dhino terperosok ke dalam lubang ketika ia tengah berlari, sehingga ia jatuh bergulung-gulung di rerumputan. Naasnya, makhluk serupa babi hutan yang di dunia itu disebut Reck yang mengejarnya itu tidak mau berhenti berlari. Ia kini berada hanya lima meter di belakang Dhino. Diukur dari kecepatan larinya, maka sudah bisa dipastikan bahwa taring setajam pedang miliknya akan dengan sangat mudah menusuk dan membelah tubuh Dhino menjadi beberapa bagian.
            Dhino hanya bisa memejamkan mata—seolah  pasrah dengan apa yang akan menimpanya.

***

KRAK!
KRAK!
Bunyi tulang patah itu terdengar hingga ke bawah. Manusia burung itu kini jatuh tanpa daya. Di atas, masih ada Maria dengan masih mencengkeram dua sayap yang telah terlepas dari punggung makhluk itu.
“Jangan ada yang berani menyentuhnya,” teriaknya. “Atau nasib kalian akan sama seperti manusia burung ini.”
Hanya dalam hitungan detik, Maria sudah berdiri tepat di samping Obin yang masih berdiri terbengong-bengong. Ia jadi sedikit resah, lantaran masih ada beberapa siluman yang tidak memperdulikan gertakannya. Maka, kini terpaksa ia mengeluarkan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Aura dalam dirinya semakin meluap-luap, hingga jalan yang ia pijak menjadi retak-retak.


***
Ia merasa bersyukur. Tak terbayangkan apa jadinya dirinya seandainya tidak ada laba-laba raksasa yang tiba-tiba melompat dari samping dan langsung mencengkeram Reck yang terus mengejarnya itu dengan kedua taringnya yang tajam. Laba-laba itu tujuh belas kali lebih besar dari Reck. Perasaan Dhino jadi campur aduk melihatnya—antara senang dan ketakutan.
Lelaki bertopeng kini sudah berdiri di samping Dhino, mengulurkan tangannya untuk membantu Dhino berdiri. “Maaf, aku tidak bermaksud membiarkanmu mati oleh makhluk itu.” Katanya.
“Tidak, kau memang sengaja.” Dhino menanggapinya dengan nada kesal.
“Terserah kau mau percaya atau tidak.” Lelaki bertopeng itu menarik tangannya. Dan kini Dhino sudah berdiri di depannya, “Aku hanya mau menguji kekuatanmu.”
“Menguji?”
“Iya.” Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya, perilaku yang seolah sudah menjadi cirri khasnya, “Ternyata kau ini lebih lemah dari yang aku kira.”

(Bersambung)

Sabtu, 09 Juni 2012

Dunia Tanpa Nama [chapter #3]



                “Kenalkan, aku Maria.” Kata gadis kecil berambut putih itu sambil memberi Obin setangkup buah-buah kecil mirip Blueberry, “Makanlah ini. Buah ini bisa memulihkan tenagamu.”
                Gadis itu kembali bersikap manis setelah mereka keluar dari hutan. Obin masih tak banyak bicara. Ia sedikit mengalami depresi mengingat dirinya sekarang tak lagi berada di dunia manusia. Ia hanya bisa berjalan tanpa daya mengikuti kemana langkah kaki Maria membawanya. Kini mereka sudah berada di keramaian. Tempat yang mirip pasar. Banyak orang menjajakan benda-benda dan binatang-binatang aneh, seperti topi yang terbuat dari kotoran sapi yang telah dikeringkan, anak-anak bebek berkepala kucing, babi berwajah manusia, manusia berwajah babi, dan lain-lain, di sana.
                “Kurasa, aku sudah gila.” Kata Obin, setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
                “Tidak, kau tidak gila. Semua yang kau lihat di sini adalah nyata. Manusia-manusia yang menjajakan benda-benda dan binatang aneh itu sebenarnya adalah siluman. Sementara binatang-binatang aneh yang mereka jajakan, seluruhnya adalah manusia.”
                “Manusia?!” Obin kaget mendengar apa yang diutarakan Maria.
                “Benar. Pada waktu hidupnya, mereka adalah orang-orang serakah. Dulu mereka adalah pencari pesugihan—orang-orang yang mencari kekayaan dengan bantuan siluman.” Maria mendekati salah satu binatang berbentuk babi dan berwajah manusia, “Lihatlah muka babi ini. Kelihatan ‘kan dari raut wajahnya, betapa serakahnya ketika ia dulu menjadi manusia?”
                “Ya, silahkan. Kau mau membarter babi ini dengan apa. Ini babi super. Semasa menjadi manusia, dia dulu menikah dengan siluman ular untuk memperkaya dirinya.” Kata sang pedagang, “Kau tahu? Rasa dagingnya sungguh luar biasa. Ia bisa membuat kekuatan sihirmu bertambah tujuh kali lipat.”
                Mendengar itu, Obin hampir saja muntah.
                “Tidak. Aku tidak tertarik. Babi mengandung banyak penyakit, apalagi yang merupakan reinkarnasi dari manusia serakah.” Kata Maria. Dan dia pun mengajak Obin berlalu dari tempat itu.
                “Aku benar-benar bisa gila jika berada di sini terus menerus. Aku ingin pulang ke duniaku.”
                “Tidak semudah itu,” kata Maria. “Ada syarat yang harus kau penuhi. Atau kalau tidak, kau bisa terkurung di dunia ini selamanya sepertiku.”
                “Terkurung?”
                “Benar. Aku terkurung di sini karena dulu tidak mau melakukan apa yang harus aku lakukan.”
                “Memangnya sejak kapan kau terkurung di sini?”
                “Tiga ratus tahun yang lalu.”
                “Tiga ratus?!!”
                “Kenapa kaget? Kau kira aku sedang berbohong?”
                “Bukan begitu. Siapapun yang melihatmu juga pasti akan mengira kalau kau baru berusia tujuh tahun.”
                “Ha ha ha,“ Maria tertawa kecil. “Di sini jiwa manusia bisa terus tumbuh dan berkembang, tapi tidak dengan raganya. Aku memang dulu masuk ke Dunia Tanpa Nama ini saat masih berusia tujuh tahun. Ketika itu, aku tidak menuruti perintah ibu untuk pulang saat maghrib dan malah asik mencari kentang-kentang rambut di lapangan pinggir pesisir.”
                “Hm, jadi begitu. Apa ketika itu, di sana kau juga mengatakan hal-hal tabu?”
                “Tidak. Ada banyak cara untuk memasuki dunia ini.”
                “Banyak cara?”
                “Benar. Terlalu panjang jika aku harus menjelaskan semua padamu di sini.” Maria menatap dalam mata Obin, “Ngomong-ngomong, apa kau mau berjanji tentang satu hal padaku?”
                “Berjanji apa?”
                “Jangan pernah memberitahukan namamu kepada orang lain.”
                “Kenapa memangnya?”
                “Sebab Dunia Tanpa Nama ini adalah dunia sihir.”
                SLEB!
                Sebuah anak panah tiba-tiba menembus jantung Maria. Ia menatap ke langit, terlihat sesosok manusia bersayap dan berkepala burung garuda sedang membawa busur dan menatapnya dengan dingin.
                “Ia tahu keberadaanmu. Mustahil. Padahal aku sudah menutupi aura manusiamu dengan auraku sejak di hutan tadi.” Kata Maria kepada Obin, sebelum ia mencabut anak panah yang menembus jantungnya.

***

“Hufh, seberapa jauh lagi?” Dhino menjatuhkan tubuhnya di padang semanggi. Nafasnya berat. Ia benar-benar merasa kelelahan.
                “Sekitar dua malam perjalanan.” Kata lelaki bertopeng yang berdiri sambil berkacak pinggang di hadapannya. “Namun jika sedikit-sedikit saja kau merebahkan tubuhmu begitu, kita bisa sampai di sana dalam tempo lima hari perjalanan.”
                “Lima hari?!”
                “Memangnya kenapa? Apa manusia di dunia normal saat ini memang manja-manja seperti kamu?”
                “Hufh, sungguh. Aku hanya khawatir tidak bisa mengikuti ujian kalkulus di kampus dua hari lagi.”
                “Wah, wah, wah, anak pintar.” Kata lelaki bertopeng itu sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Apa sebaiknya aku meninggalkanmu saja, ya. Membiarkanmu mati dimakan siluman-siluman di Dunia Tanpa Nama ini.”
                “Ah, ah, jangan! Aku tidak mau bertemu makhluk-makhluk aneh seperti di lembah tadi.” Kata Dhino. Ia berdiri tegak seketika itu juga. “Aku tidak yakin bisa menghadapinya sendirian tanpamu.”
                “Oke. Jika kau tidak ingin aku pergi jauh darimu, kau harus mau menuruti kata-kataku.” Lelaki itu mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. “Ngomong-ngomong, apa kau suka dengan hamster?”
                “Iya. Aku suka. Aku punya sepasang di rumah.”
                “Kalau begitu, kau mau yang digoreng apa yang dibakar?”

(Bersambung)

Jumat, 08 Juni 2012

Dunia Tanpa Nama [chapter #2]




“Aku tidak bercanda,” kata gadis kecil itu. Dilihat dari penampilannya, ia seperti masih berusia sekitar tujuh tahun. Rambutnya panjang memutih, bermata abu-abu, dan juga mengenakan gaun putih. Ia berjalan tanpa alas kaki, dan membawa kepala boneka yang ia dekap dengan kedua tangannya di dada. “Ini dunia lain.”
Obin masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, apalagi dengan yang didengarnya. Kendati demikian, ia sedikitpun tidak merasa takut. Ia hanya bisa diam, karena tubuhnya merasakan lemas yang sangat. Suatu kekuatan entah seolah baru saja menyerap seluruh energi yang ada dalam tubuhnya.
“Cara untuk memasuki dunia ini mudah saja..” Gadis itu kembali, memetik setangkai bunga berwarna kuning yang tumbuh tepat di depan kedua kaki mungilnya, kemudian kembali mengalihkan tatapan matanya ke Obin, “Kau hanya perlu berkata hal-hal yang tabu di dunia sana.”
“Dunia sana?”
“Iya, duniamu.”
“Jangan kau bilang aku sudah mati, ya.”
“Memang, kau memang belum mati.”
“Lantas, kenapa aku bisa berada di dunia orang mati?”
“Perlu kau tahu, ini bukan dunia orang mati.” Gadis kecil itu menyelipkan bunga kuning di tangannya ke telinganya, “Ini dunia tak bernama.”
Obin memejamkan mata. Berharap ada yang membangunkannya dengan menyiram mukanya dengan segayung air seperti biasa. Ia masih menganggap ini semua adalah mimpi.
“Bukan, kau bukan sedang bermimpi.” Gadis itu bicara, seolah ia bisa membaca apa yang ada di pikiran Obin. “Kau harus berterima kasih padaku.”
“Hah, berterimakasih? Atas apa?”
“Sebab aku telah menyelamatkan jiwamu.”
“Maksudmu?”
“Suatu hari kau juga akan mengerti sendiri.”
Obin melihat ke sekeliling. Ia akhirnya jadi mempercayai kata-kata gadis itu—meskipun dengan terpaksa—setelah menemui dirinya kini sedang berada di dalam hutan dengan pohon-pohon aneh yang tingginya lebih dari seratus meter. “Benar. Ini memang dunia lain. Kemana perginya padang rumput tempat aku mencari jamur tadi? Ah?!”
Obin jadi ingat dengan sahabatnya, Dhino. Ia melihat ke sekeliling, tapi tidak bisa menemukan sahabatnya yang cepat panik itu.
“Temanmu? Aku tak tahu keberadaannya. Sulit sekali menangkap dua orang sekaligus. Tapi, yang pasti dia juga ada di dunia yang sama denganmu ini.”
Tiba-tiba terdengar suara riuh burung yang berkoak. Obin menatap jauh ke langit biru, gerombolan burung-burung hitam raksasa yang memiliki ekor serupa ekor kanguru terbang bergerombol di langit, mereka terlihat seperti sedang menghindari maut. Kemudian terdengar suara seperti lonceng dan desisan yang asing bagi Obin. Gadis kecil berambut putih itu berjalan tepat di depan Obin dan menyuruhnya untuk tenang.
“Ular lonceng,” katanya sambil menyentuhkan telapak tangan kanannya ke tanah, sementara yang satunya masih memegang kepala boneka. “Ia mencium aroma manusia.”
“Berbahayakah?”
“Ia tidak hanya akan memakan jiwamu, tapi juga ragamu. Kau akan dicabik-cabik dan ditelannya hingga tidak tersisa.”
Mendengar jawaban itu, Obin hanya bisa diam membatu. Barangkali inilah kali pertama ia mengerti apa itu rasa takut yang sebenarnya.
Dan ular itu kini sudah tampak di depan mereka. Tubuh gadis kecil di depan obin tiba-tiba memancarkan cahaya berwarna biru lembut. Ular raksasa di depannya tertawa lebar. Obin jadi ngeri melihat pemandangan itu. Ular itu memiliki bentuk aneh, ia punya dua tanduk dan satu cula, Warna kulitnya perak. Di ujung ekornya terdapat lonceng yang jika digoyangkan akan mengeluarkan bunyi yang sama dengan lonceng-lonceng di menara gereja.
“Siapa kau, gadis kecil? Berani-beraninya kau melindungi manusia keparat ini.” Kata ular itu. Gadis itu hanya terdiam bisu. Tubuhnya tetap dipenuhi cahaya biru.
“Pergi atau mati.” Kata gadis itu, “Kau hanya boleh memberikan jawabanmu dalam waktu tidak lebih dari lima detik.”
“Ha ha ha,” ular itu hanya tertawa lebar mendengarnya.
Sama sekali tanpa bayangan, tangan kanan gadis kecil itu sudah tiba-tiba berada di atas kepala ular lonceng yang sudah remuk berkeping-keping. Darah mengalir kemana-mana, namun setetespun tidak bisa mengenai gaun gadis itu. “Kau melanggar peraturan yang kuberikan.” Katanya.
Obin hanya menelan ludah. Pemandangan yang ia saksikan barusan benar-benar mirip dengan adegan di film-film anime yang pernah ditontonnya. Susah sekali dicerna dengan akal sehat.
“Sekarang kau mengerti, ‘kan?” Gadis itu melirik Obin. Cahaya biru yang melingkupi tubuhnya memudar pelan-pelan. “Kau tidak akan bisa kembali lagi ke duniamu jika kau jauh dariku.”
“Aku tidak paham dengan semua yang terjadi ini.”
“Kenapa?
Takut?
Bukannya kamu pemberani?”

Pandangan gadis kecil itu kemudian kosong. Ia berputar arah. Kepala boneka yang ia bawa terjatuh di tanah. Tapi gadis itu masih memegang sebagian dari rambut boneka itu yang panjang. Ia lantas berjalan pelan-pelan menyusuri lantai hutan yang dipenuhi lumut-lumut hijau—dengan menyeret kepala boneka di tangannya tanpa sedikitpun ekspresi.
“Ikut aku, katanya.” Gadis itu menengok ke arah Obin, “Itu jika kau tidak mau tinggal selamanya, atau mati di sini.”
Obin jadi benar-benar merasa ngeri. Gadis yang sebelumnya bersikap anggun itu, kini benar-benar berubah mirip seperti seorang anak iblis.
Di ufuk barat, matahari terlihat sedikit demi sedikit tenggelam. Namun ia tidak berwarna merah, melainkan biru. Kabut merayap. Kunang-kunang terbang meriap, menebar sinar yang kedip-kedip. Dan dari timur, bulan datang pelan-pelan dengan sinarnya yang ungu.

(Bersambung)

Kamis, 07 Juni 2012

Dunia Tanpa Nama [chapter #1]


“Turun lewat mana?” tanya Dhino.
“Selatan.” Obin menjawab sambil menerawang suatu entah dari puncak gunung Merbabu.
“Kau yakin, kita bisa sampai rumah jika lewat sana?”
“Setengah yakin. Tapi entahlah. Aku belum pernah melewatinya. Hanya saja, kata orang-orang yang mendirikian tenda di samping kita tadi, turun lewat jalur selatan akan lebih cepat sampai.”
“Kalau tidak yakin begini, apa tidak sebaiknya kita pulang lewat jalur yang kemarin kita lewati ketika mendaki puncak ini saja?”
“Membosankan, kau tahu?” Obin membuka jaketnya yang tebal, melipatnya, dan kemudian memasukkannya ke dalam keril, “Bukan petualangan namanya kalau kita pulang lewat jalur yang sama.”
Angin berhembus kencang. Kabut menebal. Di puncak itu, hanya tinggal mereka dan dua rombongan pecinta alam lainnya. Kera-kera gunung memekik, berlompatan dari satu batu ke batu lainnya. Suasana seperti ini terasa begitu mengerikan bagi Dhino. “Hampir jam sepuluh, badai akan datang. Kita harus segera turun,” katanya.
“Bagaimana? Kita turun lewat jalur selatan, ya?”
“Terserah, jika itu maumu, ayo lah.”
“Tapi sepertinya kau masih ragu-ragu.”
“Ragu sih iya. Memangnya orang sekeraskepala kamu mau kuajak putar balik?”
“Hi hi hi,” Obin hanya tertawa. Merasa dirinya menang.
Mereka berdua lantas bersama-sama melangkah pulang. Menuruni kubah gunung Merbabu yang megah. Melompati batu-batu, menembus kabut yang sesekali datang menghalangi pandangan. Jalur itu begitu curam. Tidak ada lagi yang turun melalui jalur yang mereka lalui kecuali mereka berdua.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka kemudian sampai di daerah yang menyerupai sabana. Hanya saja, rumput-rumput yang tumbuh di sana seluruhnya terlihat menguning. Itu pemandangan yang tidak biasa bagi mereka. Pohon-pohon edelweiss tumbuh hingga dua meter di padang rumput itu, bunga-bunganya mekar, namun berwarna hitam. Obin santai-santai saja menyaksikannya, tapi Dhino takut bukan main.
“Bisa jadi, di sini banyak sekali gas beracun. Makanya seluruh tanaman banyak yang mati.” Kata Obin.
“Kalau benar-benar ada, bagaimana kita nanti?” Dhino menengok sekeliling, “Ini salahmu. Kenapa juga kita harus lewat jalur yang belum pernah kita lewati ini. Kau lihat saja, jalan setapaknya juga semakin samar ‘kan? Itu tanda kalau jarang ada orang yang lewat sini.”
Ia jadi semakin khawatir, begitu melihat jalan setapak yang mereka ikuti semakin terlihat samar. Melihat Dhino yang panik seperti itu, Obin malah merasa geli.
“Kau tahu, No. Kemungkinan lain,”
“Kemungkinan lain apa?”
“Konon kondisi alam seperti ini mengindikasikan munculnya Pasar Setan.”
“Pasar Setan?” Dhino jadi berkeringat dingin, “Apa itu Pasar Setan?”
“Konyol sekali, masa’ pendaki gunung tidak tahu Pasar Setan sih? Payah.” Obin melepas keril di punggungnya dan merebahkan diri di rerumputan yang kuning mengering, “Jika sekali saja kau masuk ke pasar itu, maka jangan pernah berharap kau bisa pulang ke rumah.”
“Pasar ghaib, ya? Bodoh. Kau ini malah menakut-nakuti saja.”
“Ha ha ha, lucu sekali. Kau ini kenapa panik begitu sih? Sudah, kau kumpulkan saja dulu jamur yang tumbuh di sekitar padang rumput ini. Jangan yang warnanya terang tapi.”
“Aneh. Kenapa juga aku harus mencari jamur sementara kau malah asyik tiduran di rumput begitu?!”
“Bekal kita sudah habis. Tinggal tiga bungkus mi instan dan setengah botol air. Kita benar-benar harus mengumpulkan bekal makanan sebanyak-banyaknya, sebab aku yakin..”
“Yakin apa? Yakin kalau kita lewat jalur yang salah, ‘kan? Benar-benar deh, sedih rasanya jika harus tersesat bersamamu.”
“Hi hi hi,” Obin hanya tertawa geli. Ia memang tipe manusia yang bisa tenang menghadapi keadaan apapun.
“Kita kembali saja deh.”
“Tidak bisa, bodoh. Kita sudah berjalan cukup jauh. Dari sini, butuh sekitar satu setengah jam perjalanan untuk bisa sampai ke puncak lagi. Kau lupa kata ranger yang kemarin itu? Kita disuruh untuk turun dari puncak tidak lebih dari jam sepuluh, karena akan datang badai di atas jam segitu.”
“Menyebalkan,” Dhino menendang bokong Obin, “Kalau begitu bantu aku mencari jamur! Jangan malah tidur-tiduran begitu.”
“Ha ha ha, ijinkan aku istirahat sejenak wahai klowor.”
Mereka berdua kemudian bersama-sama mencari jamur yang tumbuh di sekitar padang rumput itu. Mengumpulkannya sebagai bekal—untuk berjaga-jaga seandainya perjalanan mereka memakan waktu lebih lama dari yang mereka kira. Sebab bekal makanan mereka hampir habis.
Angin berhembus pelan, tapi sungguh dingin. Kabut lebih banyak datang ketimbang hilang. Suasana terasa mencekam di benak Dhino. Di sela-sela ranting edelweiss yang menghitam bunganya, burung-burung kecil sesekali bertengger. Namun kehadiran mereka sama sekali tidak mengubah suasana menjadi lebih baik, sebab mereka hanya diam diranting-ranting itu, menyimak gerak-gerik Obin dan Dhino tanpa suara. Sama sekali tanpa suara.
Jlak!
JLak!
JLAk!
JLAK!

Tiba-tiba terdengar suara seperti pohon yang sedang ditebang. Entah di mana, tapi gemanya memantul dari tebing-tebing lembah. Obin dan Dhino berhenti dari mencari jamur. Memperhatikan dengan seksama suara itu.
“Suara orang menebang pohon?” kata Dhino.
“Benar, itu tandanya kita sudah dekat dengan perkampungan. Cepat sekali, ya.”
Dan mereka pun kembali melangkah setelah memasukkan semua jamur ke dalam tas. Namun suasana kembali menjadi hening.
“Di mana asal suara tadi, ya?”
“Sudah, kita terus berjalan saja. Setelah zebra wall di depan itu, sepertinya kita akan memasuki hutan phinus. Siapa tahu dari sana asal suara tadi. Kita bisa minta air pada penebang pohon itu nanti.” Kata Obin sambil menujuk tebing yang bergaris-garis hitam putih di depan mereka.
“Kau ini pandai menakut-nakuti, ya. Kenapa tidak bilang dari tadi sih kalau kau pernah lewat jalur ini. Sial.”
“Ha ha ha, siapa memangnya yang bilang aku pernah lewat sini.”
“Nyatanya kau tahu, kalau setelah ini ada hutan phinus.”
“Aku bilang hanya kelihatannya. Temanku yang memberitahuku, tapi entah, aku tidak tahu zebra wall yang ia maksud itu zebra wall yang ada di jalan ini atau bukan.”
Suasana kembali hening, dan mereka terus melangkah turun. Untuk membuat agar suasana menjadi tidak datar, Obin kembali bermaksud menakut-nakuti Dhino.
“No, selain kondisi alam yang seperti tadi, kau tahu apa tanda-tanda munculnya Pasar Setan?”
Dhino hanya diam.
“Akan muncul suara bising ribut seperti pasar. Barangkali suara pohon ditebang tadi juga sebagian kecil cirri-cirinya.”
Begitu Obin bilang seperti itu, kondisi alam jadi tiba-tiba berubah. Angin bertiup kencang, mendung menggelantung. Dan dari arah lembah di depan mereka, awalnya sayup-sayup, kemudian semakin keras, mereka berdua mendengar suara kegaduhan seperti pasar; suara klakson motor, suara orang tawar menawar, embik kambing, juga kokok ayam.
Obin dan Dhino jadi tiba-tiba menghentikan langkah, saling memandang dengan diam. Jantung mereka berdebar dengan kencang. Dalam suasana yang mencekam seperti itu, sekumpulan kabut tiba-tiba datang dari arah selatan dengan cepat, dan kemudian.. membawa keduanya hilang.

(Bersambung)

Bocoran chapter #2 :
“Aku tidak bercanda,” kata gadis kecil itu. Ia berusia sekitar tujuh tahun. Berambut putih, bermata abu-abu, memakai gaun putih, melangkah tanpa alas kaki, dan membawa kepala boneka yang selalu ia dekap dengan kedua tangannya di dada. “Ini dunia lain. Dunia tanpa nama.”