Space Iklan

Tampilkan postingan dengan label Kisah Cahaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Cahaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Lelaki Sebelas Tahun Silam

“The teacher who is indeed wise does not bid you to enter the house of his wisdom but rather leads you to the threshold of your mind.”–Kahlil Gibran


Saat saya hampir tak percaya dengan kemampuan yang saya miliki, orang ini datang menepuk pelan pundak saya. Mengangkat saya dengan cuma kata-kata sederhana. Membuat saya berdiri dengan cuma kata-kata sederhana. Membuat saya kembali berjalan dengan cuma kata-kata sederhana. Sesederhana cara dia memandang hidupnya.

Saya sudah pernah beberapa kali menulis tentang beliau, sebenarnya. Hanya karena kemudian tulisan tersebut dianggap oleh banyak orang sebagai mengada-ngada, saya sampai dengan berat hati kembali menghapusnya. Padahal tulisan tentang beliau itu benar adanya. Tulisan yang bahkan saya sendiri baru menyadari bahwa itu merupakan jembatan yang akhirnya mampu kembali mempertemukan kami setelah sekian belas tahun saling kehilangan kontak.

Pak Udin, namanya. Sebut saja demikian. Beliau menjadi wali kelas saya sejak saya duduk di bangku kelas dua SMP. Merangkap sebagai guru Bahasa Arab dan Fiqih juga. Jika kebanyakan guru di sekolahan saya ketika itu lebih sering menghukum muridnya yang nakal dengan cara yang kasar, Pak Udin ini justru punya cara menghukum yang berbeda;

Saya ini termasuk salah satu orang yang merasa bahwa hukuman dengan berdiri di koridor sambil mengangkat satu kaki dan menjewer sendiri telinga kita dengan kedua tangan hingga jam pelajaran selesai adalah hukuman yang tidak akan membikin efek jera. Menyia-nyiakan waktu, jelas saja iya. Nah, hukuman semacam itu benar-benar tak ada dalam kamus Pak Udin. Ia selalu memanggil kedepan muridnya yang melakukan kesalahan, untuk kemudian disuruh memijit pundaknya. Terlihat tidak wajar, tapi hukuman semacam ini justru malah lebih efektif. Ketika dekat seperti itu, komunikasi jadi kehilangan batas. Dan hal itu dimanfaatkan sebagai kesempatan oleh Pak Udin untuk berbincang dengan para murid-muridnya secara lebih dalam. Maka perannya sebagai guru, justru malah tidak beda dengan peran orang tua kami sendiri.

Ada lagi hal yang tidak bisa saya lupa. Tentang kebiasaan jelek saya ketika itu, yaitu saya yang selalu menempelkan tangan ke kening jika sudah mulai bosan dengan pelajaran. Banyak guru yang malah mengatakan hal itu sebagai kebiasaan orang sok pintar. Konotasinya jelas saja negatif. Kata “sok” itu, kadang sangat menusuk hati jika saya mendengarnya. Saya akui. Tapi Pak Udin punya cara “menusuk hati” yang beda lagi. Beliau selalu menyuruh semua murid di kelas menghadap ke arah saya ketika saya secara tidak sengaja melakukan hal itu, kemudian dengan gayanya yang khas—yaitu menunjuk ke arah saya sambil menjentikkan jarinya—beliau selalu dengan keras bilang : “Lihat, Jenar. Lihat gayanya. Temanmu ini adalah seorang calon intelek!”. Efeknya apa, saya rasa anda sendiri tahu tanpa saya beri tahu.

Sejak lulus SMP, kurang lebih sebelas tahun yang lalu, kami sudah tidak lagi saling bicara—hilang kontak. Apalagi saya merantau ke Bekasi sehabis lulus SMA. Anda juga pasti tahu, sangat tidak mudah melupakan seseorang yang pernah berjasa besar pada kita dalam membentuk jati diri kita. Nah, karena saya merasa Pak Udin ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk pribadi saya, maka saya pernah beberapakali menulis kisahnya dan menguploadnya di Kompasiana (tulisan-tulisan tersebut sudah saya hapus) sebagai bentuk penghormatan sekaligus pernyataan rindu untuk kembali bisa berbincang-bincang lantaran sudah lama tidak bertemu.

Beberapa bulan setelah tulisan itu saya upload, seseorang tiba-tiba mengajak saya chating di sebuah situs jejaring sosial.

“Awan, kamu penulis di Kompasiana ya?”
“Iya. Cuma buat iseng saja.”
“Kamu kenal Pak Udin?”
“Pak Fahrudin, maksudnya?”
“Iya. Beliau guru SMP-mu, ‘kan?”
“Kok tahu?”
“Saya juga muridnya.”
“Pernah satu kelas dengan saya?”
“Tidak. Saya anak asuhnya.”
“Memang di mana beliau sekarang? Masih di sekolahan yang itu?”
“Tidak. Beliau keluar sudah lama. Kini kembali mengajar sebagai dosen di AMNI.”
“Anda di sana juga?”
“Tidak. Saya dulu tinggal di panti asuhan yang beliau dirikan.”
“Wah, hebat. Sekarang beliau punya panti asuhan :D “ *terharu*
“Kamu dapat salam dari beliau.”
“Kok dia tahu saya?”
“Iya, beliau membaca tulisanmu tentang dirinya. Sekarang sudah jadi intelek, ya. Pak Udin menyuruh saya untuk mencari tahu siapa Awan Tenggara. Beliau pengen ketemu kamu.”
Endingnya, tentu mudah ditebak akan seperti apa. []

Foto Pak Udin (kanan--bawah) bersama anak-anak asuihnya.


Minggu, 20 Mei 2012

Membaca yang Tidak Terdengar

Saya memilih untuk naik mobil travel hari itu. Kata teman saya sih enak. Tapi, begitu saya coba, ah, ternyata ruang gerak saya malah jadi terbatas. Kesal sendiri jadinya. Maklum, ketika melakukan perjalanan ke luar kota, saya memang biasa naik bus AC. Selain karena tarifnya lebih murah, saya juga bisa bebas duduk di bangku paling belakang dengan mengangkat kedua kaki saya ke atas jika merasa pegal. Pendeknya, lebih nyaman saja.

Tapi seperti yang saya sudah sering bilang, setiap dibuat kesal oleh pilihan saya sendiri, saya biasa mengakali rasa kesal saya dengan cara mengimani apa yang terjadi kepada saya itu sebagai sebuah “buku pelajaran” yang hukumnya wajib saya baca. Dan beruntunglah, setiap kali menatap keluar jendela dan berulang kali bertanya dalam hati cerita apa yang akan saya baca hari itu, saya dipertemukan juga oleh Tuhan dengan jawabannya;

Ini bukan cerita yang saya buat-buat. Pelajaran hari itu dimulai dari duduknya teman sebangku saya di dalam mobil travel tersebut yang tentu saja—lantaran hari itu saya pergi seorang diri—dia adalah orang asing bagi saya. Dia perempuan yang dari sejak di ruang tunggu memerhatikan saya dari sebrang. Berjilbab, dan manis. Bahkan sangat manis. Di mobil itu dia menyapa saya dengan senyum yang manis, sebuah bahasa lain dari “permisi”. Memang benar-benar manis. Mirip sekali dengan sahabat saya Wahyu Setyowati (ehm!)—yang sayangnya sudah bersuami.

Tidak “terbaca” apapun di awal perjalanan. Sampai kemudian saya sadar bahwa perempuan manis di sebelah saya ini ternyata adalah seorang penderita tuna wicara. Hari itu adalah perjalanan dari Solo ke Semarang. Ia bersama gurunya yang duduk tepat di bangku depan kami, akan pergi mengikuti sebuah kompetisi antar sekolah tingkat provinsi di Semarang. Seorang teman di sebelahnya juga orang yang sama dengannya. Sama-sama penderita tuna wicara, maksudnya. Dan akan menghadiri sebuah ajang kompetisi juga.

Melihat mereka berdua bicara dengan bahasa jari, saya jadi tiba-tiba sadar betapa tidak pernah bersyukurnya saya selama ini atas anugrah luar biasa yang diberikan oleh Tuhan kepada saya, yakni perihal cara berkomunikasi yang notabene tidak perlu merepotkan saya dengan harus menggunakan bahasa jari untuk sekedar ingin menyampaikan sebuah maksud saja lantaran saya bisa normal berbicara dengan lisan saya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(epilog)

Dari balik kaca jendela itu, saya lihat ia berusaha merebut koper yang diseret gurunya meski sang guru telah berusaha melarangnya. Tapi gadis itu tetap memaksa. “Biar saya saja yang bawa.” Begitulah kira-kira maksud dari apa yang coba saya baca dari gerak bibirnya. Sungguh, jika saya adalah gurunya, saya pasti bangga memiliki murid seperti itu. Di balik kekurangannya, Tuhan juga ternyata menganugrahkan padanya hati yang demikian besar. Sesuatu yang barangkali akan membuat anda iri. Apalagi saya.


Solo-Semarang, maret '12

Minggu, 25 Maret 2012

Yang Memberi Dalam Kekurangannya


Beberapa hari lalu ada acara hajatan di rumah saya. Para Ibu berjibaku dengan segala macam aroma bumbu anu di dapur pada tengah malam dan—sayangnya tepat—pada  musim langka LPG. Saya terpaksa repot keliling mencari mini market 24 jam yang ada di kota untuk membeli gas. Sebab, seluruh penjual gas tabung di sekitar tempat saya tinggal tidak bisa memenuhi permintaan saya. Bukan karena ketika itu tengah malam dan toko sudah tutup, melainkan memang karena stok gas tabung telah kosong.
Saya beruntung. Sebuah mini market di dekat perumahan Tanah Mas masih ada yang buka dan menjual gas tabung yang saya cari di waktu yang kira-kira sudah lewat pukul 12 malam itu. Sudah membeli, saya pun lekas keluar toko.

Seorang nenek tiba-tiba mendekati saya dan menawarkan sabun sereh dagangannya—yang sama sekali tidak saya butuhkan—di sana. “Untuk perawatan kulit,” katanya. Tapi saya tetap berlalu saja karena saya benar memang tidak membutuhkan barang-barang seperti yang nenek itu tawarkan.

Di parkiran, sebelum memutar kunci kontak motor saya, saya menyuruh keponakan saya yang ketika itu ikut untuk memberikan selembar uang seribu rupiah sisa kembalian gas kepada nenek itu lantaran iba. Tapi usai memberikannya, keponakan saya malah kembali dengan dua sachet lotion anti nyamuk di tangannya.

“Dari mana lotion itu?” Tanya saya.
“Nenek tadi yang memberikannya.”
“Kubilang berikan saja uang itu, bukan kusuruh kamu membeli barangnya.”
“Tapi nenek itu memaksa saya agar mau menerima ini.”

Ya sudah. Niat saya beramal malah tidak jadi. Mau saya kembalikan lotion itu saya malah takut dikira menghina. Akhirnya saya pulang saja. Sampai di rumah lotion nyamuk itu ternyata malah sangat dibutuhkan ibu-ibu. Pada kekurangan, malah. Sayapun akhirnya terpaksa kembali ke depan mini market tadi untuk membeli lotion itu lagi.

“Dua sachet, nek.” Kata saya sembari menunjuk salah satu merek lotion anti nyamuk dan memberikan selembar uang seribu rupiah kepada nenek tadi.
“Dua ratus lagi, dek.” Kata sang nenek.
“Lhoh, berapa harga satuannya?”
“Enam ratus.”
“Oh, maaf.”

Mengingat yang terjadi sebelumnya, saya jadi mengerti bahwa tujuan saya yang ketika itu ingin menempatkan diri saya sebagai “tangan yang di atas” justru malah menjadi orang yang diberi. Harga dua sachet lotion itulah yang akhirnya memberi tahu saya. Tidak saya sangka, di negri yang banyak bajingan ini, masih ada juga orang yang tak segan memberi dalam kekurangannya.

Karena tidak punya receh, sayapun meminta uang saya dan kembali memberikan uang padanya dengan nominal lebih besar yang notabene memiliki sisa kembalian lebih. Dan belum sempat beliau mengembalikan uang sisa kembalian itu, saya sudah tiba-tiba hilang dari hadapannya. Alasannya, saya rasa anda tahu sendiri apa.

Semarang, maret ’12

Selasa, 05 Juli 2011

TIDAK UNTUK UMUM

Sore itu di depan sebuah rumah yang ada di sebuah kota yang ketika itu saya kunjungi, saya dibuat kaget oleh sebuah tulisan yang ditulis dengan huruf kapital dan warna yang mencolok di tempat sampahnya. Begini bunyinya : “TIDAK UNTUK UMUM”

Setelah memperhatikan letak geografis rumah itu, saya membaca kalau letak tempat sampah yang ada di rumah itu bukanlah letak yang sering diisengin orang lain dengan membuang berplastik-plastik sampah ke sana. Sebab rumah itu ada tepat di tepi jalan raya. Jadi, seandainya ada sampah yang akan masuk ke tempat sampah rumah itu selain milik empunya rumah, paling-paling hanya sampah minuman kaleng atau bungkus rokok dari orang yang lewat saja.

Begitu membaca tulisan “TIDAK UNTUK UMUM” tersebut, saya jadi mengantongi kembali bungkus permen saya—yang ketika itu akan saya buang ke sana—untuk saya buang ke tempat sampah yang lain. Sebab, saya tidak suka dengan ketidak ikhlasan yang ditawarkan penghuni rumah itu melalui warning yang ditulis di tempat sampah miliknya. Komitmen yang merepotkan, memang.

Bicara tentang “sesuatu” di depan rumah, saya jadi kembali teringat masa-masa kecil saya. Ketika itu, tempat sampah atau pun taman di depan rumah bukanlah sesuatu yang lebih akan diperhatikan orang lain dibanding sesuatu yang lain, yang pada masa itu juga sering ada di depan-depan rumah. Sesuatu itu adalah “Kendi”.

Siapa yang tidak tahu kendi? Kendi adalah tempat air minum yang terbuat dari tanah liat. Ketika kendi diletakkan bukan di dapur ataupun di atas meja makan, melainkan di depan rumah oleh tuan rumah, siapa saja yang melihat pasti tahu kalau kendi itu ada diletakkan di sana adalah untuk disuguhkan kepada orang-orang yang lewat.

Kita mungkin sering tidak memperhatikan hal kecil semacam itu. Padahal melihat begitu banyaknya musafir—walaupun cuma pengemis atau pengamen—yang lalu lalang. Menaruh kendi berisi air minum di depan rumah seperti itu tentu adalah hal yang mulia. Dulu di kampung saya, hal semacam itu merupakan sebuah budaya. Namun entah karena faktor apa—entah karena tontonan televisi macam apa, kurikulum pendidikan macam apa, dan jenis makanan entah apa yang kita makan—yang membuat budaya seperti itu bisa punah dengan sempurna. Bahkan sebuah rumah saja, kini ada yang mengganti budaya kendi dengan budaya sampah yang saya ceritakan di atas tadi. Pernahkah anda bertanya apa yang terjadi?

Bersosialisasi sudah bukan lagi hal yang sangat penting untuk dilakukan di Negara ini, rupanya. Hey, siapa yang mengajarkan? Adakah di negri ini orang yang dengan bangga mengabarkan kepada orang lain betapa tidak punya hatinya dirinya? Olala, alangkah tidak tahu malunya!

Solo,  2011

Lelaki yang Berdiri di Pintu Kereta

Kereta penuh. Sudah biasa, kereta kelas ekonomi memang selalu seperti ini. Saya selalu memilih menyandarkan ransel besar saya ke dinding toilet dan duduk di atasnya ketika saya tidak kebagian bangku. Sembilan jam perjalanan akan menjadi waktu yang sangat membosankan tentunya. Tapi itu bagi mereka yang memang ingin lekas sampai dengan segera—Dan tidak bagi saya.

Memilih untuk menumpang kereta rakyat memang adalah pilihan saya. Namun hal tersebut tidak sekaligus membenarkan bahwa saya kurang mampu untuk membeli tiket kereta dengan kelas di atasnya. Dari pada di kelas bisnis, saya memang selalu suka menumpang kereta kelas ekonomi karena banyaknya inspirasi-inspirasi yang bisa saya tangkap di dalamnya. Seperti kisah kereta yang pernah saya ceritakan sebelumnya, dan juga seperti apa yang akan saya ceritakan berikut ini :

Saya melihat lelaki dengan penampilan kumal itu berdiri tepat di depan pintu sembari memberikan sebuah surat berwarna putih kepada petugas pemeriksa karcis. Setelah petugas berlalu darinya dan usai memeriksa karcis saya, saya buru-buru menghampiri lelaki itu karena rasa penasaran saya terhadap surat putih yang tadi ia berikan ke petugas. Enak sekali, nggak beli karcis. Surat khusus apa itu?, pikir saya.

Saya melakukan pendekatan perlahan dengan berdiri di sampingnya, menikmati semilir, melihat eloknya kembang-kembang tebu yang bergoyang ditingkahi angin kereta. Lantas saya mulai perlahan bertanya padanya. Dan belum ada sepuluh menit berbincang dengannya, mata saya langsung dipaksa berkaca-kaca. Hai! Siapa sangka.

Ada sekitar empat belas surat putih yang sama yang ia tunjukkan pada saya. Semuanya adalah surat pengantar dari dinas orang terlantar. Saya sedang bicara dengan orang terlantar, bukan dengan gembel. Maka saya pun berusaha untuk sesopan mungkin ketika bicara dengannya.

Kalau tidak salah, namanya Rokhim. Ia berasal dari kota yang sama dengan saya—Semarang. Rokhim telah sepuluh hari menjelajahi pulau Sumatra untuk mencari ayahnya. Paling tidak, itulah yang ia ceritakan kepada saya.

“Kenapa harus mencari, memang tidak tahu dengan persis alamatnya?” Tanya saya.

“Tahu, mas. Tapi bapak sudah pindah.”

“Kenapa tidak mengabari orang di kampung alamat barunya?”

“Keluarga kami broken, bapak menikah lagi. Ibu pergi ke Arab Saudi. Saya di rumah bersama nenek. Bertani setiap hari. Namanya anak, pasti ada lah rasa kangen sama bapak. Apalagi saya ini kan anak tunggal.”

“Sudah berapa lama bapak meninggalkan rumah?”

“Sejak bercerai dengan ibu. Lima belas tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku kelas empat SD.”

“Sejak hari itu, kamu sama sekali tidak pernah bertemu?”

“Tidak. Sebab itulah saya berusaha mencarinya. Walau jauh ke seberang pulau. Dan.. ternyata saya malah tidak menemukannya.”

“Pasti kangen, ya..” saya menatap langit. “Kalau ketemu, akan kamu apakan?”

“Tentu saja kangen. Mungkin saya akan memeluknya.” Ia mengusap sesuatu pada matanya.

Ah, saya tidak bisa membayangkan seandainya saya adalah dirinya. Belasan tahun berpisah dengan orang tua, mencari ke luar pulau hingga kehabisan dana, tapi tak dapat bertemu juga. Betapa menyedihkannya. Kalau anda adalah dia, bagaimana?


Semarang, 2011

Jumat, 15 April 2011

Sepotong Cerita Dari Gerbong Kereta

Dari rombongannya di belakang, bapak itu datang dan duduk tiba-tiba ke bangku kosong yang tepat berada di depan saya. Butuh waktu sekitar lima detik bagi saya untuk bisa memperhatikan penampilan bapak itu dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum akhirnya beliau menyapa saya dengan senyum dan kata-kata yang ramah.



Kumal, dengan handuk kecil yang diserampangkan begitu saja di pundaknya, celana bahan yang congkrang, juga sandal jepit karet yang beliau kenakan, membuat saya berasumsi kalau bapak ini adalah tukang becak miskin yang sebelum berangkat naik kereta ini telah terlebih dahulu mendapat kabar dari kampung halaman, kabar mengejutkan yang membuat ia harus bisa sampai ke sana di pukul sekian tanpa boleh melakukan sedikitpun persiapan. Begitulah. Wajah yang hitam dan berminyak beliau itu juga sekaligus melegitimasi apa yang tergambar di benak saya ketika itu. Namun ternyata tidak seperti itu kenyataannya..

Saya mengenal beliau baru setelah setengah perjalanan, karena memang di ketika itulah beliau pindah dari bangku sesuai tiket kereta miliknya di belakang ke bangku kosong di depan saya.



"Sumpek," Begitulah katanya, menanggapi anak-anaknya yang seluruhnya adalah perempuan.



"Kenapa sumpek, Pak?" Tanya saya.



"Nggak bisa ngrokok."



Sebagai seorang laki-laki, saya tentu paham dengan apa yang dari tadi beliau rasakan. Karena memang, dunia dari laki-laki semacam beliau ini haruslah kombinasi dari kopi, rokok, dan teman untuk bisa nyambung diajak bicara. Tidak ada salah satunya, maka fatal akibatnya; bisa jadi sesak napas atau kebosanan tingkat tinggi.

Pak Parmin, nama beliau. Mengaku berasal dari kota Solo. Liburan sekolah anak-anaknya membuat beliau berinisiatif untuk mempertemukan ketiga anaknya tersebut dengan neneknya setelah sekian tahun mereka tidak pernah berjumpa lantaran jarak. Tadinya saya sempat berfikir kalau beliau ini memang benar-benar jenis manusia yang dianugrahi kesusahan, sehingga untuk bisa mempertemukan anak-anaknya dari Jakarta ke Solo saja harus memakai hitungan tahun untuk mencapai hari H. Namun saya menjadi malu sendiri setelah mendengar cerita kalau ternyata sebelum naik kereta ini, beliau telah terlebih dahulu naik pesawat dari Irian Jaya. Dan turun ke Jakarta, beliau hanya ingin menjenguk saudara-saudaranya. Dengan apa yang dikenakannya, siapapun tak akan bisa percaya pada apa yang Pak Parmin ini lakukan. Namun anda akan berpikir berbeda setelah berbincang dengannya sambil minum kopi di sepanjang perjalanan seraya mendengar suara ribut anak-anaknya yang berada tepat di bangku belakang.



Berbagai cerita tentang tanah Papua dan muasal petani coklat ini ikut program transmigrasi pemerintah dari berpuluh-puluh tahun lalu yang saya dengar dari beliau, ternyata mampu memberi banyak motivasi bagi saya untuk tak lagi mau kalah dalam hidup. Saya jadi tak perlu kurang kerjaan mengali-ngalikan angka ongkos naik pesawat sekaligus biaya makan bagi beliau dan tiga anaknya dari Papua hingga ke Solo nanti. Dari cara beliau bertutur, saya dituntut untuk mengerti kalau angka itu tak akan pernah lebih berharga untuk diceritakan dari pada pertemuan antara nenek dengan cucu-cucunya.



Dari beliau pula, saya belajar satu hal yang sangat berharga. Ternyata, dalam hidup, kita tak membutuhkan suara tepuk tangan sebagai pujian atas sebuah penampilan, demikian pula dengan sebuah  isi. Sebab hidup berjalan tak untuk ajang bangga diri, melainkan sekedar untuk ibadah dan "menghidupi".



Memang,  dengan kesederhanaan seperti demikianlah hidup itu seharusnya dijalani.



Semarang, April 2011

Jumat, 18 Februari 2011

Aku Memberinya Judul : Kebun Mimpi

Saat aku duduk di bangku SMP, masih kuingat bahwa dulu aku sangat bangga ketika wali kelasku memberikan untukku sebuah jabatan sebagai seorang sekretaris di kelas, alasan yang kudengar adalah karena beliau melihat tulisanku yang rapi dalam buku pelajaranku. Wah, sekretaris. Keren sekali, pikirku. Apalagi alasannya karena sesuatu yang berhubungan dengan kelebihanku, siapa yang tak bangga.

       Seperti di tipi-tipi saja, aku jadi seorang sekretaris, widiiiih membayangkannya saja sudah membuatku serasa memiliki empat sayap dan terbang dari jembatan banjir kanal di Demak hingga obor patung liberty di New York—padahal aku belum tahu pasti tugas-tugas yang akan diemban oleh seorang sekretaris di dalam kelas.

       Usai pelantikan, aku pulang sekolah dengan hati yang berbinar-binar seperti orang yang baru saja dapat lotre sepuluh juta rupiah. Ah, lebih tepat kalau dibilang seperti orang yang memperoleh kebahagiaan mutlak—kebahagiaan seorang kakek yang baru saja mendapat cucu pertamanya.

       Dua bulan berlalu, dan efek menjadi seorang sekretaris kelas baru terasa setelah itu. Sial*n! ternyata sekretaris kelas itu adalah jabatan yang lebih rendah dari orang yang tidak mendapat jabatan apapun di kelas, aku baru sadar kalau aku ini orang bodoh yang tak tahu ap-apa. Kau tahu apa tugas seorang sekretaris di dalam kelas, kawan? Juru catat! Ya, tidak lebih dari itu.

       Setiap ganti pelajaran, apalagi ketika pelajaran PPKN yang materi tiap pertemuannya selalu harus mengkhatamkan lima halaman buku pelajaran, rasanya aku ingin muntah saja, karena lima halaman itu aku harus menulisnya dulu di depan papan tulis agar dicatat teman sekelas di buku tulis mereka sebelum masuk ke sesi penjelasan oleh guru. Tragisnya lagi aku harus menunggu teman-temanku menjawab “sudah” ketika aku bertanya pada mereka “yang ini sudah belum?” sebelum aku menghapusnya dengan penghapus untuk kemudian menulis kelanjutannya di papan tulis karena volume papan tulis itu hanya mampu menampung 1 ½ halaman dari lima halaman yang harus kutulis.

       Dan gurunya? Ia hanya duduk bersedakep, kemudian mengucapkan terimakasih padaku dan menyuruhku duduk, “Bawa saja bukunya, kau ‘kan perlu materinya juga.” Kata beliau dibarengi dengan senyum yang manis, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai senyuman yang menipu! Betapa tidak, ketika teman-temanku duduk diam menerima penjelasannya, aku harus menulis kembali apa yang telah kutulis di depan papan tulis tadi. Diskriminatif! Intimidasi mental! Eksploitasi waktu! atau entah apa lah namanya itu, bagiku ini sama artinya dengan pembodohan!. Hey, say it is joke!! Kataku— yang sialnya harus selalu kupendam dalam hati.

       Dan parah, jabatan itu ternyata merubahku menjadi orang yang jahat, aku sering berdoa tiap pagi pada hari di mana ada jadwal mata pelajaran yang membuatku harus menulis panjang lebar di papan tulis. Dan tak jarang doaku itu terkabulkan, guru itu tidak masuk sehingga petugas TU lah yang menggantikannya, dan ketika petugas TU yang menggantikan, aku jadi sangat bahagia karena ia hanya akan memberi materi soal untuk diselesaikan sepanjang jam pelajaran.

                                                              ***

       Hingga memasuki semester tiga, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan bahwa aku sudah tak sanggup menerima semua ini kepada wali kelas setelah aku tahu ketika aku menulis di depan, guru yang mengisi pelajaran di kelas kami malah ngobrol dengan guru lain di luar kelas. (lebaaay..). ternyata aku mendapat respon yang bagus dari wali kelaslku, beliau justru menghargai keberanianku mengatakan hal itu padanya. Lalu mulai hari itu, hingga aku lulus, tak ada lagi murid di kelas kami yang disuruh untuk menulis di depan. Semua adalah tugas guru, itu adalah keputusan rapat yang ternyata langsung dibentuk beberapa hari setelah aku mengadu.

     Aku ingat benar, usai mengatakan itu, ketika jam istirahat. Di koridor kelas aku menatap jauh ke gunung sebrang yang bisa kulihat dari temptku berdiri di lantai dua itu, wali kelasku datang menghampiriku, ia mengusap punggungku pelan, sambil menatap ke arah yang sama beliau berucap; “Kau calon intelek, kau akan jadi orang hebat!” sungguh, itu kata yang sangat klise darinya, namun tiap kali mendengarnya kepalaku selalu bergetar, jantungku selalu berdebar, aku ingin sekali menangis, namun harga diriku tak mengijinkan aku melakukan hal itu. (jiaaah makin lebay :’D) dan aku pun hanya tersenyum dan menanggapinya dengan kata; “Saya ingin percaya itu. Saya ingin selalu percaya.”

       Dan kini waktupun berlalu, kira-kira sudah sepuluh tahun sejak aku melewati hari-hari itu. Dari seorang juru tulis di depan kelas, kini aku sudah menulis beberapa buku. Hey, siapa yang menyangka? Ini terlihat seolah aku telah berhasil membalas dendam kepada masa laluku. Ironis, atau mungkin juga hiperbolis, tapi memang inilah yang terjadi.

       Dari sini aku percaya, bahwa semua ini adalah sesuatu yang bukan tak sengaja dirancang Tuhan untukku.

       Maka kawan, boleh percaya boleh tidak, seburuk apapun perlakuan dari lingkunganmu yang engkau terima saat ini, jadikanlah hal itu sebagai kebun inspirasi, tanamlah bibit mimpi, siramlah dengan pupuk kesabaran, lalu panen dan putar balikkanlah takdirmu! Karena setiap kita adalah pemenang!!

Sarang Angin, 28 Nopember 2010

Sabtu, 18 September 2010

KETUK

salah besar jika anda berfikir bahwa ketuk itu adalah nama semacam binatang yang bisa bermetamorfosis dari buruk ke baik seperti halnya kupu-kupu atau 'the ugly duck'. bukan, ketuk bukan itu. ketuk juga bukan merupakan sebuah nama alat pijat refleksi, apalagi sejenis minuman penambah semangat seperti halnya kopi. lalu apa itu ketuk? sampai-sampai saya harus memilih judul di atas untuk membuat catatan ini pagi-pagi sekali di hari minggu yang seharusnya saya nikmati dengan jalan-jalan ke jakarta untuk membeli buku-buku bekas? mari, saya ceritakan..



ketuk sebenarnya adalah nama seorang perempuan, tetangga sekampung saya tepatnya. ketuk seperti halnya perempuan kampung biasa, tidak cantik, juga tidak jelek-jelek amat, ia memiliki seorang kakak perempuan bernama tomblok yang sudah meninggal dunia sebelum menikah karena terserang asma. mungkin jika kisah mereka, dari mereka kecil sampai dengan hari dimana kejadian itu terjadi diliput secara eksklusif dalam sebuah acara infotainment di layar kaca, anda akan membutuhkan tiga dus kertas tisu untuk menontonnya.



ketuk bukanlah anak orang kaya, ia sudah menjadi piatu sejak saya bertetangga dengannya, entahlah, karena ketika itu saya masih kecil, saya jadi tidak ingat kapan persisnya.



yang jelas, ketuk memiliki ayah seorang penjual air ledeng keliling yang sudah renta, yang sering menghabiskan sisa waktunya sehabis bekerja dengan memakai sarung dan ngopi di depan rumah, lalu pergi ke langgar jika waktu adzan tiba. dulu, saya sering mendengar bahwa ketuk itu sangat suka sekali bermain ke diskotik, duh, seorang perempuan kampung anak penjual air ledeng keliling sampai punya hobi ke diskotik, apa jadinya, ironis sekali tentu. tapi benar atau tidaknya kabar itu saya tidak mau tahu, dalam catatan ini saya tidak akan bercerita tentang ketuk yang 'before', melainkan ia yang 'after'.



nah, ialah ketuk, perempuan yang dalam kamus saya, saya sebut sebagai 'PEREMPUAN TOA JAM TIGA SORE'. sebutan ini berlaku untuk ketuk yang sudah tidak perawan lagi, ia yang sudah menikah dan punya seorang anak. ketuk versi ini sudah berbeda jauh dari ketuk yang 'before', dadanya kini menjadi lebih besar, meski tak sebesar milik Pamela Anderson, tubuhnya juga sudah 'njeber', mungkin akan mirip Nunung jika ia benar-benar tidak menjaga makanannya mulai dari saat itu juga.





kenapa saya sampai menyebutnya dengan 'PEREMPUAN TOA JAM TIGA SORE'? jelas saja, ketuk ini adalah seorang penjual kue-kue kecil yang ia jajakan keliling kampung mulai jam tiga sore. sungguh, kalau ia sudah keliling pada jam itu, penampilannya sudah berubah seperti Tentara Berani Mati, depan belakang kanan kiri, semua sudah ada 'dunak' dan tas berisi kue-kue kecil yang ia tawarkan berkeliling sambil berteriak-teriak, suaranya yang keras dan nyaring membuat siapapun yang mendengarnya bakal keluar rumah, suaranya yang menggelegar bak toa masjid itu juga sangat memungkinkan ia untuk diajak duet dalam konser Avenged Sevenfold jika ada produser yang mendengarnya, tapi sayang, nggak ada ceritanya produser jalan-jalan keliling kampung untuk mencari orang berbakat yang punya penampilan macam ketuk.



siapa yang menyangka, ketuk yang modelnya seperti itu justru bisa memberi saya sebuah pelajaran, bahwa hidup harus diperjuangkan, tak peduli meski penampilannya seperti tentara berani mati, ia tetap setia bekerja keliling kampung menjajakan kue demi menghidupi putri kesayangannya lantaran penghasilan suaminya begitu pas-pasan. tak peduli juga apakah ia tidak bisa menghabiskan waktunya untuk pergi ke salon dan menggosip, yang ia tahu, hidup harus disyukuri demikian adanya.





karena ketuk itulah, saya bisa sampai ke kota ini, bekerja dan membiayai kuliah saya sendiri hingga lulus hari ini. ketuk bukanlah Albert Einstein, Mahatma Gandhi, ataupun Ir.Soekarno, tapi ia bisa menginspirasi saya demikian hebat hingga saya berubah menjadi seperti sekarang ini, yang tanpa memandangnya ketika sore, mungkin saya hanya akan menjadi pemuda yang suka nongkrong di jalan-jalan sambil trek-trekan, menjadi anak papi, dan merengek-rengek kalau kantong sudah kosong.



sungguh di luar dugaan memang, bahwa ternyata inspirasipun bisa muncul dari orang yang mereka anggap tidak penting. nah, kan. siapa yang menyangka..





Bekasi, 19 September 2010